Eksternalitas

28 Jun

Dalam suatu perekonomian modern setiap aktivitas mempunyai keterkaitan dengan aktivitas lainnya dan semakin modern suatu perekonomian semakin besar dan semakin banyak kaitannya dengan kegiatan-kegiatan lainnya. Pabila semua keterakaitan antara suatu kegiatan dengan kegiatan lainnya dilaksanakan dengan mekanisme paasara tau melalui suatru sistem, maka keterkaitan antara berabaga aktivitas tersebut tidak menimbulkan masalah. Akan tetapi banayak pula keterkaitan natar kegiatan yang tidak melalui mekanisme pasar sehingga timbul berbagai macam masalah. Keterkaitan suatu kegiatan dengan kegiatan lain yang tidak melalui mekanisme pasar adalah apa yang disebut eksternalitas.
Jadi, apa yang dimaksud dengan eksternalitas adalah apabila tindakan seseorang mempunyai dampak terhadap orang lain (atau segolongan orang lain) tanpa adanya kompensasi apapun juga sehingga timbul inefisiesi dalam aloaksi faktor produksi.

Dampak Eksternalitas
Ditinjau dari dampaknya eksternalitas dapat dibagi dua, yaitu eksternalitas negatif dan eksternalitas positif. Yang dimaksud dengan eksternalitas positif adalah dampak yang menguntungkan dari suatu tindakan yang dilkukan oleh suatu pihak terhadap orang lain tanpa adanya kompensasi dari pihak yang diuntungkan. Sedangkan eksternalitas negatif apabila dampaknya bagi orang lain yang tidak menerima kompensasi sifatnya merugikan.

1. Eksternalitas Produsen-Produsen
Seorang produsen dapat mimbulkan eksterbnalitas positif ataupun negatif terhadap produsen lainya. Contoh eksternalitas positif misalnya tindakan seorang produsen (A) melatih tenaga kerjanya. Produsen lain (B) menerima eksternalitas positif karena bisa memperoleh tenaga kerja terdidik tanpa harus memeberikan pendidikan pada tenaga-tenaga kerja. Dalam hal lain, ekternalitas positif ditimbulkan melalui pngunaan faktor produksi. Produsen A dan B dalam melakukan aktivitas mereka mengunakan faktor-faktor produksi misalnya saja modal (K) dan tenaga kerja (L). Dan misalkan produsen A merupakan pihak yang menimbulkan ekternalitas bagi produsen B, dimana produsen A menghasilkan barang X sedangkan produsen B menghasilkan barang Y.
Fungsi produksi A : X=f(Lx, Kx)
Fungsi produksi B : Y=g(Ly, Ky, Kx)
Dari persamaan di atas, kita lihat fungsi produksi A yang menunjukan hubungan fisik antara output dan input, dan jumlah barang X yang dihasilkan tergantung pada tenaga kerja dan modal yang digunakan.

2. Eksternalitas Produsen-Konsumen
Aktivitas seorang produsen dapat pula menimbulkan efek terhadap utilitas individu tanpa mendapat kompensasi apapun juga. Misalkan saja suatu pabrik mengeluarkan asap yang menyebabkan polusi udara. Udara kotor tersebut terpaksa dihirup oleh masyarakat yang tinggal disekitar pabrik sehingga menyebabkan utulitas mereka untuk tinggal di sekitar pabrik menurun. Dalam hal ini pabrik tidak memberikan ganti rugi dalam bentuk apapun juga kepada masyarakat dan pabrik tersebut akan menentukan tingkat produksi dimana harga barang produksi sama dengan biaya marginal, atau PX=PMCX.

3. Eksternalitas Konsumen-Produsen
Misalnya, seseorang setiap hari makan nasi dan sisanya dibuang kedalam sungai, aliran tersebut masuk kedalam kolam sehingga ikan dalam kolam tersebut menjadi cepat besar tanpa pemilik kolam memberikan makan lagi kepada ikan-ikannya. Dalam hal ini maka pemilik kolam yang menghasilkan ikan menerima manfaat eksternalitaas ppositif dari tindakan konsumen yang makan nasi. Analisa eksternalitas koosumen-produsen hanyalah merupakan suatu kasus yang berkebalikan dari analisa eksternalitas produsen-konsumen.
4. Eksternalitas Konsumen-Konsumen
Aktivitas konsumsi seseorang dapat secara langsung mempengaruhi tingkat kepuasan/utilitas orang lain tanpa ada suatu kompensasi (dalam hal eksternalitas positif) atau biaya (dalam hal eksternalitas negaif) apapun juga. Eksternalitas konsumen-konsumen ini tidak banyak mendapat perhatian para ahli ekonomi lingkungan karena tidak ada pengaruh yang nyata dalam perekonomian. Eksternalitas konsumen-konsumen dapat dibedakan dampaknya antara dampak fisik dan dampak kejiwaan (physic). Dampak physic merupakan eksternalitas yang secara langsung mempengaruhi kesehatan. Misalnya, seseorang mengendarai motor yang mengeluarkan asap tebal dan menyebabkna orang-ornag disekitarnya mengalami sesak napas. Dampak inilah yang disebut dengan dampak fisik. Dampak kejiwaan menyangkut masalah perasaan. Misalnya saja seseorang yang mersa tidak senang atau iri karen melihat tetangganya mempunyai mobil mewah. Rasa iri/tidak senang adalah dampak kejiwaan yang secara tidak langsung mempengaruhi keadaan seseorang karena aktivitas konsumsi orang lain.

Cara Memperbaiki Alokasi Sumber-Sumber Ekonomi
Adanya eksternalitas menimbulkan alokasi sumber-sumber ekonomi yang didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan individu pihak yang melukukan suatu aktivitas menjadi tidak efisien. Hal ini disebabkan karena perhitungan untung rugi oleh individu tanpa menghiraukan dampak dari tindakannya terhadap orang lain atau masyarakat secara keseluruhan. Coase mengemukakan bahwa masalah eksternalitas timbul karena tidak jelasnya pemilikan suatu barang. Misalnya ada sebuah pabrik semen yang membuang limbahnya kedalam sebuah sungai sedangkan disebelah hilir sungai ada pabrik es yang menggunakan air sungai untuk membuat es. Tindakan pabrik semen tersebut menyebabkan pabrik es harus menegeluarkan biaya tambaahan untuk menjernihkan air sungai dan biaya tamabahan ini besarnya tergantung tingkat pencemaran air sungai yang disebabkan oleh tindakan pabrik semen tersebut. Meneurut Coase, apabila pabrik es diberikan hak milik atas aliran sungai tersebut maka pemilik pabrik es dapat menuntut pabrik semen untuk membayar atas tindakannya yang menyebabkan polusi air sungai. Pembayaran tersebut akan masuk dalam kalkulasi harga semen pabrik semen mempunyai insentif untuk tidak menimbulkan polusi terlalu banyak.
Apabila hak pemilikan atas aliran sungai diberikan kepada pabrik semen, maka pabrik tersebut merasa bebas untuk membuang limbahnya ke sungai. Pabrik es yang menggnakan air sungai akan mengadakan perjanjian dengan pabrik semen agar pabrik semen mau mengurangi produksinya (atau mengurangi polusi yang ditimbulkan) dengan suatu jumlah pembayaran tertentu. Apabila kerugian karena pengurangan produksi lebih kecil dari jumlah uang yang dibayarkan, maka pabrik semen akan bersedia untuk mengurangi produksi semennya.

Menurut Coase kepada siapa hak milik atas aliran sungai akan diberikan, apakah kepada penyebab polusi atau kepada penderita akibat polusi, tidak menjadi soal karena pemeberian hak milik kepada siapapun manapun akan menyebabkan terjadinya alokasi sumber-sumber ekonomi yang efisien.

Pemerintah dapat memecehkan alokasi sumber yang lebih efisien dengan mengenakan kepada pihak penyebab polusi (misalnya pabrik semen), dimana pajak tersebut merupakan pajak per unit.

Cara lain untuk meningkatka efisiensi penggunaan faktor-faktor produksi karena adanya eksternalitas adalah denga pemberian subsidi kepada pabrik semen (atau kepada pihak yang menimbulkan polusi) atas setiap unit semen yang dikurangi produksinya dibawah OQ1. subsidi yang diberika sebesarnya adalah ED untuk setiap unit produksi yang dikurangi. Apabila pabrik semen tidak bersedia mengurangi pabrik semen berarti pabrik tersebut akan kehilangan subsidi dari pemerintah, sehingga biaya oportunitas perusahaan perusahaan adalah biaya marginal ditambah subsidi yang hilang. Dengan berproduksi sebesar OQ1 unit maka biaya oportunitas bagi pabrik tersebut bukanlah sebesar BQ1, tetapi CQ1, yaitu sebanyak PMC +subsidi yang hilang (=BQ1 + BC). Biaya oportunitas tersebut lebih besar dari penerimaannya (yang sebesar BQ1), sehingga perusahaan semen tersebut akan mengurangi produksinya.

 

Beberapa kelemahan pemberian subsidi untuk mengatasi polusi adalah sebagai berikut:

  1. pemerintah harus mengetahui tingkat produksi yang ditetapkan pabrik tanpa adanya subsidi. Tanpa mengetahui tingkay produksi sebelum subsidi maka para pengusaha akan cenderung untuk menyatakan tingkat produksi yang sebsesar-besarnya untuk mendapatkan sunbsidi yang lebih besar. Kecenderungan ini tidak terjadi pada pemungutan pajak.
  2. Analisanya statis dan sifatnya jangka pendaek karena tidak memperhatikan bertambahnya jumlah pabrik yang menimblukan polusi.
  3. Timbul distorsi lokasi (locational distotion). Karena pabrik yang menibulkan pencemaran sungai memperoleh subsidi, maka ada kecenderungan pabrik-pabrik lainnya berlokasi ditepi sungai untuk memperoleh subsidi.
  4. Dari segi moral tidak dibenarkan. Pihak yang menimbulkan pencemaran justru memperoleh subdsidi. Ini secara moral tidak benar karena subsidi diberikan untuk suatu aktivitas yang baik, bukan swuatu aktivitas yang tidak baik.

 

Jadi, dua cara yang dapat dipakai pemerintah untuk mengatasi eksternalitas adalah dengan mengenakan pajak pada kasus eksternalitas negatif dan memberika subsidi pada eksternalitas positif.

Pemberian Hak Polusi Melalui Lelang

Inefisiensi yang timbul karena adanya eksternalitas dapat diatasi dengan cara lain yaitu dengan pemberian hak untuk menimbulkan polusi dengan lelang. Perusahaan  atau pabrik yang bersedia membayar paling banyak yang diberi hak polusi pada tingkat polusi yang optimum (LQ0 pada kurva di atas). Keuntungan dari cara ini adalah mudah dilaksanakan dalam politik sehari-hari. Selain itu, akan tercapai distribusi dari hak polusi yang optimal diantara para pengusaha/pabrik, dalam arti pabrik yang mendapat keuntungan terbesar dalam berproduksi dan menimbulkan polusi adalah pabrik yang memperoleh hak untuk melakukan polusi.

Peraturan untuk Mengatasi Eksternalitas

Pemerintah dapat juga mengeluarkan perturan bagi pabrik untuk mengurangi polusi dalam jumlah tertentu, atau akan dihukum apabila melakukan pelanggaran. Disini pemerintah mengatur pabrik untuk berproduksi sebanyak OQ0 unit pada kurva di atas. Kelemahan cara ini untuk meningkatkan efisiensi penggunaan sumber-sumber ekonomi adalah justru timbulnya inefisiensi apabila terdapat dua pabrik yang menimbulkan polusi.

Jadi, perturan pemerintah yang menetapkan jumlah polusi yang diperkenankan dalam jumlah yang sama untuk semua pabrik akan menyebabkan ada pabrik yang memghasilkan terlalu banyak dan ada pabrik yang menghasilkan terlalu sedikit.

 Karena adanya perbedaan struktur biaya, tingkat polusi yang ditimbulkan dan juga struktur keuntungan antara pabrik yang satu dengan pabrik yang lainnya, maka jumlah polusi yang diperkenankan juga harus berbeda-beda antar pabrik-pabrik tersebut.

_ semoga bermanfaat _

Reiny😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: