GDP, CPI, dan Pengangguran

26 Jun

Produk Domestik Bruto (Gross Domestic Product, GDP) adalah nilai mata uang seluruh barang dan jasa yang diproduksi dalam satu negara pada perioda waktu tertentu.

Indeks harga konsumen (IHK) atau Consumer Price Index (CPI) mengubah harga berbagai barang dan jasa menjadi sebuah indeks tunggal yang mengukur seluruh tingkat harga. ( jadi, cpi ini mengukur tingkat harga ) Biro Statistik Tenaga Kerja mengukur semuanya dengan menghitung harga sekeranjang barang dan jasa yang dibeli oleh konsumen tipikal. CPI adalah harga sekeranjang barang ini relatif terhadap harga keranjang yang sama pada tahun dasar.

Misalnya, anggap bahwa konsumen tipikal membeli 5 apel dan 2 jeruk setiap bulan. Lalu keranjang barang terdiri dari 5 apel dan 2 jeruk, dan CPI :
CPI = ( 5 ´ Harga Apel sekarang) + (2 ´ Harga Jeruk sekarang)
( 5 ´ Harga Apel 2006) + (2 ´ Harga Jeruk 2006)

Pada perhitungan CPI, 2006 adalah tahun dasar. Index menyatakan berapa yang harus dibelanjakan untuk membeli 5 apel dan 2 jeruk sekarang relatif terhadap harga sekeranjang buah yang sama tahun 2006.

Tingkat pengangguran menyatakan jumlah pekerja yang tidak memiliki pekerjaan.

Dua cara menghitung GDP yaitu Pendapatan total semua orang dalam negara & Pengeluaran total output barang dan jasa dalam Negara. Untuk ekonomi secara keseluruhan, pendapatan harus sama dengan pengeluaran. GDP mengukur aliran rupiah dalam ekonomi.

Kaidah Menghitung GDP :

1) Untuk menghitung nilai total barang dan jasa yang berbeda, pos pendapatan nasional (national income accounts) menggunakan harga pasar.
GDP = (Harga apel ´ Jumlah apel) + (Harga jeruk ´ Jumlah jeruk)
= ($0.50 ´ 4) + ($1.00 ´ 3)
GDP = $5.00

2) Barang bekas tidak dimasukkan dalam perhitungan GDP.
3) Perlakuan terhadap persediaan bergantung apakah barang disimpan atau dibiarkan. Bila barang disimpan, nilainya dimasukkan dalam GDP.Bila dibiarkan, GDP tidak berubah. Bila akhirnya terjual, barang tersebut dianggap sebagai barang bekas (tidak dihitung).

4) Barang setengah jadi (intermediate goods) tidak dihitung dalam GDP hanya barang jadi. Alasan: nilai barang setengah jadi telah dimasukkan dalam harga pasar. Nilai tambah (value added) sebuah perusahaan sama dengan nilai output perusahaan itu dikurangi nilai barang setengah jadi yang dibeli perusahaan.

5) Sebagian barang tidak dijual di pasar dan karena itu tidak memiliki harga pasar. Kita harus menggunakan nilai terkait (imputed value) Sebagaia perkiraan nilainya. Misalnya, jasa perumahan dan layanan pemerintah.

_ semoga bermanfaat _
Reiny😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: