KEBUDAYAAN ISLAM

29 Nov

KEBUDAYAAN ISLAM

Perkembangan kebudayaan islam membutuhkan petunjuk wahyu berupa firman firman Allah SWT yang terdapat di dalam Al Qur’an dan diperlukan seorang pemimpin umat yaitu Rasulullah saw serta bertujuan hanya untuk beribadah kepada Allah semata mata. Islam dalam hal ini bermanfaat untuk memberikan petunjuk kepada manusia dalam upaya agar dapat menumbuhkembangkan akal budi, sehingga memperoleh kebudayaan yang memenuhi aturan aturan dan norma norma agama.
Perkembangan kebudayaan yang didasari dengan nilai nilai keagamaan memiliki fungsi yang demikian jelas. Maju dan mundurnya kehidupan umat manusia itu disebabkan adanya hal hal yang terbatas dalam memecahkan berbagai macam persoalan dalam hidup dan kehidupan manusia, maka dibutuhkan suatu petunjuk berupa wahyu Allah SWT

Islam sebagai suatu agama yang sungguh sungguh mendorong manusia untuk berusaha melalui pribadi dan kelompoknya agar dapat menciptakan suatu keadaan yang lebih baik, sehingga menjadi suatu kekuatan di dunia. Masyarakat merupakan ajang kebudayaan. Kebudayaan ada dan terwujud karena adanya hubungan antara manusia yang satu dengan lainnya. Dalam hubungan tersebut timbullah cita cita, perilaku, dan hasil karya, kesemuanya ini mewujudkan kebudayaan. Tingkah laku perbuatan dan hasil karya disebut amal. Takwa yang mempunyai sifat pasif menjadi aktif dalam bentuk amal. Kebudayaan timbul karena kesatuan sosial. Kesatuan sosial terwujud dari hubungan antara manusia dengan manusia, hal ini merupakan kesinambungan adanya hubungan tersebut yang melahirkan adanya hubungan antara manusia dengan Tuhan. Hubungan antara manusia dengan Tuhan menimbulkan sistem agama yang disebut dengan sistem ibadat, hubungan manusia dengan diri sendiri menimbulkan sistem antropologi yang disebut dengan sistem takwa, hubungan manusia dengan manusia lain dan alam semesta menimbulkan sistem kebudayaan disebut dengan sistem mu’amalat, kemudian menjadi wadah kebudayaan yaitu kebudayaan Islam.

2.1 PENGERTIAN KEBUDAYAAN
Di dalam Kamus Bahasa Indonesia, disebutkan bahwa: “ budaya “ adalah pikiran, akal budi, adat istiadat. Sedang “ kebudayaan” adalah hasil kegiatan dan penciptaan batin ( akal budi ) manusia, seperti kepercayaan, kesenian dan adat istiadat. Sebagian ahli kebudayaan memandang bahwa kecenderungan untuk berbudaya merupakan dinamik ilahi. Bahkan menurut Hegel, keseluruhan karya sadar insani yang berupa ilmu, tata hukum, tatanegara, kesenian, dan filsafat tak lain daripada proses realisasidiri dari roh ilahi. Sebaliknya sebagian ahli, seperti Pater Jan Bakker, dalam bukunya “Filsafat Kebudayaan” menyatakan bahwa tidak ada hubungannya antara agama dan budaya, karena menurutnya, bahwa agama merupakan keyakinan hidup rohaninya pemeluknya, sebagai jawaban atas panggilan ilahi. Keyakinan ini disebut Iman, dan Iman merupakan pemberian dari Tuhan, sedang kebudayaan merupakan karya manusia. Sehingga keduanya tidak bisa ditemukan.
Untuk melihat manusia dan kebudayaannya, Islam tidaklah memandangnya dari satu sisi saja. Islam memandang bahwa manusia mempunyai dua unsur penting, yaitu unsur tanah dan unsur ruh yang ditiupkan Allah kedalam tubuhnya. Ini sangat terlihat jelas di dalam
firman Allah Qs As Sajdah 7-9 : “ ( Allah)-lah Yang memulai penciptaan manusia dari tanah, kemudian Dia menciptakan keturunannya dari saripati air yan hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam ( tubuh )-nya roh ( ciptaan)-Nya”

Islam mengajarkan kepada umatnya untuk selalu beramal dan berkarya, untuk selalu menggunakan pikiran yang diberikan Allah untuk mengolah alam dunia ini menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kepentingan manusia. Dengan demikian, Islam telah berperan sebagai pendorong manusia untuk “ berbudaya “. Dan dalam satu waktu Islamlah yang meletakkan kaidah, norma dan pedoman. Sampai disini, mungkin bisa dikatakan bahwa kebudayaan itu sendiri berasal dari agama.

2.2 KONSEP KEBUDAYAAN ISLAM
Hakikat kebudayaan sebenarnya sama dengan pertanyaan mengenai hakikat manusia. Kebudayaan merupakan endapan dari kegiatan dan karya manusia, yang tidak lagi diartikan semata-mata sebagai segala manifestasi kehidupan manusia yang berbudi luhur seperti agama, kesenian, filsafat, dan sebagainya. Sehingga menyebabkan ada perbedaan pengertian antara “bangsa-bangsa berbudaya” dengan “bangsa-bangsa primitif”. kebudayaan diartikan sebagai manifestasi kehidupan setiap orang dan setiap kelompok orang-orang dalam arti luas.
Pengertian kebudayaan meliputi segala perbuatan manusia. Konsep kebudayaan telah diperluas dan didinamisasi, kendatipun secara akademik orang sering membedakan antara kebudayaan dan peradaban. Tetapi pada dasarnya keduanya menyatu dalam pengertian kebudayaan secara luas dan dinamis. Sebab kebudayaan sebagai wilayah akal budi manusia tidak hanya mengandung salah satu aspek dari kegiatan-kegiatan manusia
Nabi Muhammad SAW merupakan teladan yang baik sekali dalam melaksanakan kebudayaan seperti dilukiskan Qur’an itu, bahwa bagaimana rasa persaudaraannya terhadap seluruh umat manusia dengan cara yang sangat tinggi dan sungguh-sungguh itu dilaksanakan. Saudara-saudaranya di Mekah semua sama dengan dia sendiri dalam menanggung duka dan sengsara. Bahkan dia sendiri yang lebih banyak menanggungnya. Sesudah hijrah ke Medinah, dipersaudarakannya orang-orang Muhajirin dengan Anshar demikian rupa, sehingga mereka berada dalam status saudara sedarah. Persaudaraan sesama orang-orang beriman secara umum itu adalah persaudaraan kasih-sayang untuk membangun suatu sendi kebudayaan yang masih muda waktu itu. Yang memperkuat persaudaraan ini ialah keimanan yang sungguh-sungguh kepada Allah dengan demikian kuatnya sehingga dibawanya Muhammad kedalam komunikasi dengan Tuhan, Zat Yang Maha Agung.

2.3 KARAKTERISTIK KEBUDAYAAN ISLAM
Islam datang untuk mengatur dan membimbing masyarakat menuju kepada kehidupan yang baik dan seimbang. Dengan demikian Islam tidaklah datang untuk menghancurkan budaya yang telah dianut suatu masyarakat, akan tetapi dalam waktu yang bersamaan Islam menginginkan agar umat manusia ini jauh dan terhindar dari hal-hal yang yang tidak bermanfaat di dalam kehidupannya, sehingga Islam perlu meluruskan dan membimbing kebudayaan yang berkembang di masyarakat menuju kebudayaan yang beradab dan berkemajuan serta mempertinggi derajat kemanusiaan.
Islam telah membagi budaya menjadi tiga macam , Pertama Kebudayaan yang tidak bertentangan dengan Islam. seperti kadar besar kecilnya mahar dalam pernikahan. di dalam masyarakat Aceh keluarga wanita biasanya menentukan jumlah mas kawin sekitar 50-100 gram emas. Kedua Kebudayaan yang sebagian unsurnya bertentangan dengan Islam Contoh yang paling jelas adalah tradisi Jahiliyah yang melakukan ibadah haji dengan cara-cara yang bertentangan dengan ajaran Islam seperti lafadh “ talbiyah “ yaitu thowaf di Ka’bah dengan telanjang. Ketiga Kebudayaan yang bertentangan dengan Islam. Seperti budaya “ ngaben “ yang dilakukan oleh masyarakat Bali.

2.4 SEJARAH INTELEKTUAL UMAT ISLAM
Diskusi sains dan Islam dimulai dari suatu peristiwa monumental yang ditandai lahirnya sains modern, yakni Revolusi Ilmiah pada abad ke 17 di Eropa Barat yang menjadi cikal bakal munculnya sains modern sebagai sistem pengetahuan universal. Dalam historiografi, sains adalah salah satu pertanyaan besar yang selalu menjadi daya tarik.
Mengapa Revolusi Ilmiah tersebut tidak terjadi di peradaban Islam yang mengalami masa kejayaan berabad-abad sebelum bangsa Eropa membangun sistem pengetahuan mereka?melihat sejarah yang lebih awal tentang peradaban Islam dan sistem pengetahuan yang dibangunnya, catatan A.I. Sabra dapat kita jadikan salah satu pegangan untuk melihat kontribusi peradaban Islam dalam sains. Dalam pengamatannya, peradaban Islam memang mengimpor tradisi intelektual dari peradaban Yunani Klasik, tetapi proses ini tidak dilakukan begitu saja secara pasif melainkan dilakukan melalui proses penyesuaian dengan nilai-nilai Islam. Dengan demikian peradaban Islam mampu mengambil, mengolah, dan memproduksi suatu sistem pengetahuan yang baru, unik, dan terpadu yang tidak tidak pernah ada sebelumnya. Ada dua hal yang dicatat Sabra sebagai kontribusi signifikan peradaban Islam dalam sains. Pertama adalah dalam tingkat pemikiran ilmiah yang diilhami oleh kebutuhan dalam sistem kepercayaan Islam. Penentuan arah kiblat secara akurat adalah salah satu hasil dari konjungsi ini. Kedua dalam tingkat institusionalisasi sains. Sabra merujuk pada empat institusi penting bagi perkembamgan sains yang pertama kali muncul dalam peradaban Islam, yaitu rumah sakit, perpustakaan umum, sekolah tinggi, dan observatorium astronomi. Semua kemajuan yang dicapai ini dimungkinkan oleh dukungan dari penguasa pada waktu itu dalam bentuk pendanaan dan penghargaan terhadap tradisi ilmiah.
keunikan sains dalam Islam adalah masuknya unsur agama dalam sistem pengetahuan. Tetapi, menurut Sadili disini juga lah penyebab kegagalan peradaban Islam mencapai Revolusi Ilmiah. Dalam asumsi Sadili, tradisi intelektual Yunani Klasik yang diwarisi oleh peradaban Islam baru dapat menghasilkan kemajuan ilmiah jika terjadi proses rekonsiliasi dengan kekuatan agama. Rekonsiliasi antara sains dan agama tersebut terjadi di peradaban Eropa, tetapi tidak terjadi di peradaban Islam.

2.5 MASJID SEBAGAI PUSAT PERADABAN
Jika dikaji secara mendalam, dinamika peradaban Islam berjalan selaras dengan perluasan dan pengayaan fungsi masjid bagi umat Muslim. Dalam perjalanan sejarah Islam masjid bukan sekadar tempat untuk menunaikan ibadah shalat, namun juga berperan fenomenal dan krusial dalam menunjang kehidupan masyarakat. Islam mengajarkan pendirian masjid harus memberikan manfaat luas, terdalam dan lengkap mengingat seluruh permukaan bumi adalah masjid. Karena bumi ini ciptaan Al-Qahhaar sehingga seluruh permukaannya juga milik Al-Wahhaab. maka secara harafiah ibadah shalat dapat dilakukan di mana saja. Nabi Muhammad saw bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud ra : “Jika seseorang memasuki masjid jangan duduk terlebih dahulu sebelum mengerjakan shalat dua rakaat”
Peradaban Islam selalu mencontohkan bahwa pendirian dan pemanfaatan masjid harus lebih dikembangkan dan lebih diperluas bagi kehidupan umat Muslim. Sebab jika hanya dipakai sebagai tempat shalat, umat Islam dapat melakukannya di luar masjid yaitu di seluruh tempat di atas permukaan bumi. Hal ini seperti yang dikutip dari Jabir bin ’Abdullah Nabi SAW pernah bersabda: “Aku dikarunia lima perkara yang belum pernah diberikan kepada seorang pun sebelum aku;
1. aku ditolong dengan kegentaran musuh yang menghadangku jarak sejauh sebulan perjalanan
2. dan dijadikan bumi ini bagi ku sebagai masjid dan bahan pensuci, lalu di mana saja seseorang dari umatku mendapatkan waktu shalat, ia boleh melakukan shalat di situ
3. dan dihalalkan bagiku rampasan perang, padahal tidak dihalalkan bagi seseorang sebelum aku
4. aku diizinkan memberi syafa’ah pada hari Kiamat
5. dan adapun nabi-nabi (terdahulu) diutus hanya untuk kaumnya semata-mata, sedang aku diutus untuk manusia seluruhnya.” (HR Bukhary dan Muslim).
Nabi Muhammad SAW adalah manusia yang pertama kali meneladani dalam memperluas dan memperkaya fungsi masjid. Ketika hijrah dan mendirikan Negara Madinah, Rasulullah menjadikan Masjid Madinah yaitu Masjid Nabawi sebagai pusat kegiatan pemerintahan. Sebagai jantung kota Madinah saat itu, Masjid Nabawi digunakan untuk kegiatan politik, perencanaan kota, menentukan strategi militer dan untuk mengadakan perjanjian kerja sama bahkan di area sekitarnya digunakan sebagai tempat tinggal sementara oleh orang-orang fakir miskin. Setelah Nabi wafat, Masjid Nabawi tetap dijadikan sebagai pusat kegiatan para khalifah, sebagaimana yang dilakukan oleh Al-Khulafa Al-Rasyidun sepanjang tahun 632-660.
Fungsi Masjid Nabawi sebagai pusat kegiatan para khalifah terus berlanjut. Bahkan pada saat itu fungsi Masjid Nabi semakin diperluas sebagai pusat pertemuan para sahabat dan pemimpin Muslim lainnya. Karena menjadi pusat dakwah bagi kaum mualaf dalam rangka menerima pelajaran dasar tentang Islam, akibatnya fungsi masjid sebagai pusat pendidikan Islam menjadi semakin mengkristal. Dari sanalah penguatan fungsi masjid sebagai pusat pelayanan pendidikan dan penyebaran keilmuan yang bernuansa Islam mulai tumbuh. Dan mulai dari fase itu, fungsi masjid sebagai pusat pengembangan peradaban Islam mulai berkembang.

Masjid kemudian dibangun di luar Semenanjung Arab, seiring dengan kaum Muslim yang bermukim di luar Jazirah Arab. Mesir menjadi daerah pertama yang dikuasai oleh kaum Muslim Arab pada tahun 640. Sejak saat itu, Ibukota Mesir, Kairo dipenuhi dengan masjid sehingga dijuluki sebagai kota seribu menara. Dan beberapa masjid di Kairo juga mengikuti keteladanan Masjid Nabi karena berfungsi sebagai sekolah Islam atau madrasah bahkan rumah sakit.
Banyak pemimpin Muslim setelah wafatnya nabi Muhammad SAW berlomba-lomba untuk membangun masjid. Seperti di kota Mekkah dan Madinah dengan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, masjid di kota Karbala juga dibangun di dekat makam Imam Husein. Di kota Isfahan, Iran juga dikenal dengan Masjid Imam-nya yang menjadi pusat kegiatan masyarakat muslim di sana. Pada akhir abad ke-17, Syah Abbas I dari Dinasti Safawi di Iran merubah kota Isfahan menjadi salah satu kota terbagus di dunia dengan membangun Masjid Syah dan Masjid Syaikh Lutfallah di pusat kota. Ini menjadikan kota Isfahan memiliki lapangan pusat kota terbesar di dunia. Lapangan ini berfungsi sebagai pasar bahkan tempat olahraga.

Dalam perkembangan sejarah Islam, eksistensi masjid menjadi sangat komprehensif karena selain sebagai sarana ibadah juga menjadi lanskap yang sangat berarti bagi kehidupan kaum Muslimin yang tentunya selaras dengan fungsi-fungsi masjid itu sendiri. Dengan semangat ke-islaman yang menggelora, masjid didirikan sebagai titik awal kegiatan utama kaum Muslimin.
Bermula dengan mendirikan masjid, kemudian dikembangkan ke arah kegiatan-kegiatan lainnya yang menjadi sumber kegiatan sosial-keagamaan, pendidikan, politik, kesehatan dan lain sebagainya. misalnya seperti penataan masjid jami’. Konsep masjid raya ini dirancang sebagai pusat ibadah, sosial dan keagamaan yang ditempatkan pada inti kegiatan. Pengembangan kegiatan berikutnya berupa kegiatan pendidikan, kesehatan dan olahraga.
Pada lingkungan kegiatan berikutnya, masjid dikembangkan sebagai pusat pasar amal (bazar) dan menjadi tempat penjualan produk dan jasa yang terkait dengan pendidikan, ibadah dan keagamaan. Pada aspek kegiatan inilah, masjid difungsikan sebagai tempat untuk mengumpulkan dana, baik dengan menggelar pasar amal atau menyewakan ruang-ruang yang dimilikinya untuk tempat akad nikah, resepsi perkawinan dan sebagainya. Masjid Tanah Liat di Djenne’, Mali secara rutin mengadakan festival tahunan dalam rangka mengumpulkan dana untuk merehabilitasi bangunannya.
Kemudian pada kegiatan yang terakhir, fungsi masjid direkatkan dengan pemukiman penduduk beserta fasilitas umum lainnya yang diperlukan. Jika pemukiman penduduk berjarak cukup jauh dengan dengan masjid, biasanya didirikan pula fasilitas sosial tambahan dalam ukuran lebih kecil seperti musala atau langgar dan lain sebagainya.

Penyatuan rancang bangun lanskap masjid yang terbagi ke dalam beberapa fungsi kegiatan tersebut sesungguhnya bersumber dari tawhidic paradigm. Paradigma Tauhid mengartikan adanya kesatuan kehidupan yang berpusat pada masjid. Masjid sebagai simbol keimanan dan ke-Islaman menjadi pusat kegiatan ibadah yang selanjutnya menyebar ke aspek-aspek kegiatan berikutnya yang juga teramat penting dalam mendukung kehidupan umat muslim.
Paradigma Tauhid memosisikan agama sebagai inti kehidupan dan tidak ada pemisahan antara hal-hal yang bersifat sakral maupun profan. Antara kegiatan yang memberi makna bagi kepentingan duniawi maupun akhirat dapat dilakukan secara terintegrasi dan terkait dengan dimensi keagamaan dan bahkan dapat dikemas sebagai pancaran keimanan dan ibadah.
Belajar dari sejarah Islam, seharusnya eksistensi masjid pada masa kini harus lebih mampu memberi makna terdalam, terluas dan terlengkap bagi kehidupan masyarakat Muslim. Tujuannya untuk menciptakan manfaat masjid yang maksimal serta berkesinambungan dalam mengembangkan peradaban dunia Islam yang maju, ramah, mandiri, damai dan modern.
2.6 NILAI NILAI ISLAM DALAM BUDAYA INDONESIA
Kebudayaan Islam merupakan suatu sistem yang memiliki sifat-sifat ideal, sempurna, praktis, aktual, diakui keberadaannya dan senantiasa diekspresikan. Sistem islam menerapkan dan menjanjikan perdamaian dan stabilitas dimanapun manusia berada, karena pada hakikatnya manusia memiliki kedudukan yang sama dihadapan Allah SWT, yang berbeda justru hanya terletak pada unsur unsur keimanan dan ketakwaannya saja. Islam dalam hal ini bermanfaat untuk memberikan petunjuk kepada manusia dalam upaya agar dapat menumbuh kembangkan akal budi sehingga memperoleh kebudayaan yang memenuhi aturan-aturan dan norma norma agama. Perkembang kebudayaan yang didasari dengan nilai nilai keagamaan Dakwah Islam ke Indonesia lengkap dengan seni dan kebudayaannya, maka islam tidak lepas dari budaya Arab. Di Indonesia sulit untuk mengantisipasi adanya perbedaan antara ajaran Islam dengan kebudayaan Arab.

Tumbuh kembangnya Islam di Indonesia diolah sedemikian rupa oleh para juru dakwah dengan melalui berbagai macam cara, baik melalui bahasa maupun budaya seperti halnya dilakukan oleh para wali Allah di Pulau Jawa yang kita kenal dengan wali songo. Sehingga masyarakat secara tidak sengaja dapat memperoleh nilai-nilai Islam yang pada akhirnya dapat dikemas dan diubah menjadi adat istiadat di dalam hidup dan kehidupan sehari-hari dan secara langsung merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kebudayaan bangsa Indonesia misalnya setiap diadakan upacara upacara adat banyak menggunakan bahasa Arab (Al Qur’an) yang sudah secara langsung masuk ke dalam bahasa daerah dan Indonesia. Hal tersebut tidak disadari bahwa sebenarnya yang dilaksanakan tidak lain adalah ajaran-ajaran Islam. Ajaran Islam yang bersifat komprehensif dan menyeluruh juga dapat disaksikan dalam hal melaksanakan hari raya Idul Fitri 1 Syawal yang pada awalnya sebenarnya dirayakan secara bersama dan serentak oleh seluruh umat Islam dimanapun mereka berada, namun yang kemudian berkembang di Indonesia bahwa segenap lapisan masyarakat tanpa pandang bulu dengan tidak memandang agama dan keyakinannya secara bersama sama mengadakan syawalan (halal bil halal) selama satu bulan penuh dalam bulan syawal, hal inilah yang pada hakikatnya berasal dari nilai nilai ajaran Islam, yaitu mewujudkan ikatan tali persaudaraan diantara sesama handai tolan dengan cara saling bersilaturahmi satu sama lain sehingga dapat terjalin suasana akrab dalam keluarga.

Berkaitan dengan nilai-nilai Islam dalam kebudayaan Indonesia yang lain juga dapat dikemukakan yaitu sesuai dengan perkembangan zaman terutama ciri dan corak bangunan masjid di Indonesia yang juga mengalami tumbuh kembang, baik terdiri dari masjid masjid tua maupun yang baru dibangun, misal masjid masjid yang dibangun oleh Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila, pada umumnya hampir mirip dengan bentuk joglo yang berseni budaya Jawa. Perkembangan budaya islam yang terdapat pada masjid secara nyata dapat ditunjukkan yaitu adanya masjid masjid tua yang kemudian diperbaiki dengan ditambah konstruksi baru atau mengganti tiang tiang kayu dengan tiang batu atau beton, lantai batu dengan ubin dan dinding sekat dengan tembok kayu. Hal tersebut dapat dicontohkan beberapa masjid yang menambah bangunan, yaitu Masjid Agung Banten (bangunan menara dan madrasah), Masjid Menara Kudus (bangunan bagian depan berujud pintu gerbang dan kubah dengan gaya arsitektur kayu Indonesia), Masjid Agung Surakarta (bangunan pintu gerbang dan tembok keliling yang berlubang tiga pintu dengan lengkung runcing dan menara tempel yang memiliki mahkota kubah, merupakan hasil modifikasi pintu gerbang masjid masjid di India. Masjid Sumenep Madura (bangunan pintu gerbang bergaya arsitektur Eropa), Masjid Jami’ Padang Panjang, Tanah Datar, Masjid Sarik (Bukittinggi), Masjid Sumatera Barat (pembangunan puncak tumbang dengan mahkota kubah). Masjid mempunyai sejumlah komponen yaitu kubah, menara, mihrab, dan mimbar komponen masjid yang berciri khas Indonesia adalah beduk. Beduk terbesar di Indonesia terdapat di dalam masjid Jami’ Purworejo dibuat oleh orang Indonesia dengan dirancang sesuai dengan nilai-nilai yang berciri khas Islami dan berbudaya Indonesia.

Islam sebagai agama rahmatan lil alamin dapat dilihat dalam segala aspek kehidupan masyarakat di indonesia baik dalam aspek sosial, politik, ekonomi, dan agama sehingga nilai nilai Islam, terutama yang terdapat dalam kebudayaan Indonesia secara keseluruhan tidak dapat dihindari.

_ semoga bermanfaat _
Reiny🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: