Anjak Piutang

4 Jul

Pengertian :

1. Menurut Keputusan Menteri Keuangan Nomor 1251/KMK.013/1988, Perusahaan anjak piutang adalah badan usaha yang melakukan kegiatan pembiayaan dalam bentuk pembelian dan atau pengalihan serta pengurusan piutang atau tagihan jangka pendek suatu perusahaan dan transaksi perdagangan dalam atau luar negeri.

2. Menurut Perpes No. 9 tahun 2009, Anjak Piutang adalah lembaga pembiayaan yang melakukan kegiatan pembiayaan dalam bentuk pembelian piutang dalam jangka pendek suatu perusahaan berikut pengurusan atas piutang tersebut.

Jadi, Anjak Piutang adalah pengalihan serta pengurusan piutang kepada perusahaan anjak piutang sehingga penjual tidak perlu menagih langsung piutang kepada pembeli. Dengan demikian, kas yang diterima penjual dapat digunakan untuk membiayai modal kerja demi kesinambungan usaha walaupun penjual harus membayar biaya tertentu.

Permodalan Anjak Piutang :

Sesuai dengan PMK No. 84/PMK.012/2006 tanggal 29 September 2009 tentang pembiayaan, jumlah modal disetor atau simpanan pokok dan simpanan wajib dalam rangka pendirian perusahaan pembiayaan adalah :
a. Perusahaan swasta nasional atau perusahaan patungan sekurang-kurangnya sebesar Rp100 milyar.
b. Koperasi sekurang-kurangnya sebesar Rp50 milyar.

Pelaku Anjak Piutang :

Dalam kegiatan anjak piutang terdapat tiga pelaku utama yang terlibat yaitu :
a. Perusahaan anjak piutang (factor) adalah perusahaan atau pihak yang menawarkan jasa anjak piutang.
b. Klien (supplier) adalah pihak yang menggunakan jasa perusahaan anjak piutang.
c. Nasabah (customer) atau disebut debitor adalah pihak-pihak yang mengadakan transaksi dengan klien.

Sejarah :

Kegiatan anjak piutang mulai dikenal ketika perusahaan-perusahaan manufaktur di Inggris berusaha menjual produknya di Amerika. Amerika pada waktu itu, sekitar tahun 1880-an, merupakan benua baru yang banyak didatangi oleh orang-orang dari Eropa terutama dari Inggris. Kedatangan bangsa Eropa di Amerika mau tidak mau membawa konsekuensi bahwa mereka harus melakukan kegiatan produksi dan konsumsi di daerah barunya, namun pada awalnya mereka tidak banyak bisa melakukan kegiatan produksi karena terbatasnya sumber daya manusia, peralatan, dan kapal. Keadaan ini memaksa mereka untuk mendatangkan sebagian besar kebutuhan mereka dari daerah asal, yaitu Inggris. Ketika perusahaan-perusahaan di Inggris akan memasarkan atau menjual produknya ke orang-orang di Amerika, timbul masalah karena ternyata mereka tidak saling mengenal. Risiko tidak terbayarnya penjualan secara kredit semakin besar bukan hanya karena mereka tidak saling mengenal tetapi juga karena jarak yang sangat jauh. Kondisi ini mendorong perusahaan-perusahaan di Inggris untuk menemukan suatu solusi mengenai sistem penjualan yang sesuai. Perusahaan-perusahaan tertentu mulai tertarik untuk menjembatani atau sebagai perantara antara pihak penjual di Inggris dengan pihak pembeli di Amerika. Perusahaan-perusahaan ini selanjutnya dikenal sebagai factor atau agen. Jasa yang ditawarkan oleh factor pada waktu itu masih berkisar terutama pada pengurusan dan penagihan piutang saja.
Usaha factor ini menjadi semakin berkembang ketika perusahaan-perusahaan tekstil Inggris memerlukan jasa penilaian kelayakan atas kredit dagang kepada pembeli di Amerika. Mengingat factor ini dianggap sebagai perusahaan yang cukup berpengalaman dalam hal penyelesaian tagihan atau piutang, maka perusahaan tekstil di Inggris cenderung menggunakan jasa mereka untuk melakukan investigasi kredit kepada pembeli di Amerika. Tugas factor dalam hal ini adalah menentukan kelayakan suatu pembeli untuk memperoleh fasilitas pembelian dengan cara kredit (credit worthiness) dan juga menentukan tingkat atau kemungkinan terbayarnya suatu piutang dari penjualan tekstil secara kredit. Lama-kelamaan, factor tidak hanya memberikan jasa investigasi kredit saja tetapi sekaligus membeli faktur-faktur penjualan tekstil dari perusahaan tekstil. Factor kemudian menguangkan atau menagih faktur tersebut pada pembeli saat jatuh tempo. Dalam perkembangannya, kegiatan pemberian jasa anjak piutang ini tidak hanya diberikan oleh suatu perusahaan sebagai salah satu dari kegiataan usahanya, tetapi juga oleh suatu perusahaan yang secara khusus bergerak dalam bidang anjak piutang. Usaha berkembang mulai dari Amerika Utara, kemudian berkembang di bagian Amerika yang lain, lalu berkembang di Eropa, dan akhirnya ke seluruh dunia. Bidang usaha yang dilayani jasa anjak piutang berkembang dari semula tekstil ke bidang-bidang usaha yang lain termasuk jasa.
Kegiatan anjak piutang di Indonesia mulai berkembang baik sejak adanya keputusan Presiden No. 61 dan Keputusan Menteri Keuangan No. 1251/KMK.13/1988 tanggal 20 Desember 1988. Peraturan ini terutama diterapkan untuk memberikan alternatif pembiayaan usaha dari berbagai macam jenis lembaga keuangan, terutama perusahaan anjak piutang. Pembiayaan usaha diberikan keleluasaan untuk memberikan alternatif pembiayaan usaha dari berbagai macam jenis lembaga keuangan., termasuk peusahaan anjak piutang. Pembiayaan usaha diberikan keleluasaan untuk mengembangkan usaha dengan modal yang hanya tidak bersumber dari lembaga perbankan saja. Jasa anjak piutang dapat diberikan oleh suatu lembaga keuangan sebagai salah satu kegiatan usahanya, dapat diberikan oleh suatu bank, dan dapat diberikan oleh suatu lembaga keuangan yang secara khusus memberikan jasa anjak piutang.

Jenis anjak piutang :

Pada pelaksanaannya, jenis dari jasa anjak piutang yang diberikan oleh factor dan yang akan diterima oleh klien sangat bergantung pada formulasi dari perjanjian yang dibuat oleh kedua pihak. Atas dasar hal tersebut jasa anjak piutang dapat dibedakan atas dasar hal-hal berikut :

a. Berdasarkan Jasa yang Ditawarkan
– Full-service factoring
Jasa factoring ini meliputi semua jenis piutang baik dalam bentuk jasa pembiayaan maupun jasa nonpembiayaan misalnya urusan administrasi penjualan, tagihan dan penagihan piutang termasuk menanggung resiko terhadap piutang yang macet.
– Bulk factoring
Jasa factoringdengan fasilitas yang pada dasarnya hampir sama dengan Full-service factoring, namun penagihan piutang tetap dilakukan oleh klien dan proteksi risiko kredit tidak dijamin perusahaan factoring.
– Matury factoring
Anjak piutang jenis ini memberikan jasa proteksi risiko piutang, administrasi penjualan secara menyeluruh, dan penagihan. Proteksi risiko atas piutang diberikan oleh factortanpa melakukan pembiayaan atau pemberian uang muka atas pelunasan piutang. Pembelian piutang oleh factordilakukan pada tanggal tertentu yang biasanya ditentukan atas dasar rata-rata jangka waktu tempo dari piutang yang diberikan kepada klien. Sebagai contoh, apabila rata-rata jangka waktu jatuh tempo dari piutang adalah 30 hari, maka factor pada hari ke-30 atau setiap 30 hari membeli 100% dari faktur-faktur penjual yang ada. Cara ini tidak menyebabkan munculnya kewajiban bunga bagi klien. Kewajiban klien kepada factorhanyalah feeatas jasa proteksi risiko piutang, administrasi penjualan secara menyeluruh, dan penagihan yang diberikan oleh factor.
– Invoice discounting
Anjak piutang jenis ini hanya memberikan jasa pembiayaan saja, sedangkan jasa nonpembiayaan sama sekali tidak diberikan.

b. Berdasarkan Distribusi Risiko
– With recourse factoring
Anjak piutang dengan cara recourse atau disebut with recourse factoring berkaitan dengan risiko debitor yang tidak mampu memenuhi kewajibannya. Keadaan ini bagi perusahaan anjak piutang merupakan ancaman resiko. Dalam perjanjian With recourse factoring, klien akan menanggung risiko kredit terhadap piutang yang dialihkan kepada perusahaan anjak piutang. Oleh karena itu, perusahaan anjak piutang akan mengembalikan tanggung jawab (recource) pembayaran piutang kepada klien atas piutang yang tidak tertagih dari customer.
– Without recourse factoring
Anjak piutang ini disebut non-recourse factoring adalah perusahaan anjak piutang menanggung resiko atas tidak tertagihnya piutang yang telah dialihkan oleh klien. Namun, dalam perjanjian anjak piutang dapat dicantumkan bahwa di luar keadaan macetnya tagihan dapat diberlakukan recourse. Ini untuk menghindarkan tagihan yang tidak dibayar karena pihak klien ternyata mengirim barang yang cacat atau tidak sesuai dengan perjanjian kepada nasabahnya. Dengan demikian customer berhak untuk mengembalikan barang yang telah diserahkan tersebut dan terlepas dari kewajiban pembayaran utang. Dalam hal terjadi kasus demikian, perusahaan factoringdapat mengembalikan tagihan kepada klien.

c. Berdasarkan Keterlibatan Nasabah dalam Perjanjian
– Disclosed factoring
Adalah pengalihan piutang kepada perusahaan anjak piutang dengan sepengetahuan pihak debitor (customer). Oleh karena itu, pada saat piutang jatuh tempo perusahaan anjak piutang memiliki hak tagih pada debitor yang bersangkutan. Untuk dapat melakukan hal tersebut di dalam faktur dicantumkan pernyataan bahwa piutang yang timbul dari faktur ini telah dialihkan kepada perusahaan anjak piutang.

Notifikasi setiap transaksi anjak piutang kepada pihak customer dimaksudkan antara lain : 

1. Untuk meminjam pembayaran langsung kepada perusahaan anjak piutang.
2. Untuk mencegah pihak customer melakukan perbuatan yang merugikan pihak perusahaan anjak piutang misalnya, pengurangan jumlah piutang sesuai dengan kontrak klien sebagai penjual.
3. Akan mencegah perubahan-perubahan yang ada dalam kontrak yang memengaruhi perusahaan anjak piutang.
4. Akan memungkinkan perusahaan anjak piutang untuk menuntut atas namanya apabila terjadi perselisihan.

-Undisclosed factoring

Adalah transaksi penjualan atau pengalihan piutang kepada perusahaan anjak piutang oleh klien tanpa pemberitahuan kepada debitor kecuali bila ada pelanggaran atas kesepakatan pada pihak klien atau secara sepihak perusahaan anjak piutang menganggap akan menghadapi resiko.

d. Berdasarkan Lingkup Pelayanan
– Domestic factoring
Pihak-pihak yang terlibat dalam domestic factoringberkedudukan dalam satu wilayah negara. Apabila dilakukan dalam lingkup domestik, prosesnya adalah sebagai berikut :
Klien melakukan transaksi jual beli dengan pihak konsumen. Penyerahan barang atau jasa diikuti dengan penagihan yang diwujudkan dalam dokumen berupa faktur (invoice). Dokumen tersebut selanjutnya akan diserahkan kepada perusahaan anjak piutang dan klien akan mendapatkan pembayaran setelah dikurangi dengan diskonto. Bila telah jatuh tempo, konsumen akan langsung melakukan pembayaran kepada pihak perusahaan anjak piutang secara penuh. Kemudian perusahaan anjak piutang akan menyerahkan kembali dokumen yang telah dilunasi tersebut beserta dengan tagihan yang tidak ikut dibiayai.

 

Dalam kegiatan anjak piutang dengan lingkup internasional, ada empat pihak yang terkait dalam kegiatan tersebut adalah: eksportir, importir, export factor, dan import factor. Prosesnya adalah sebagai berikut:

Eksportir membuat perjanjian dengan pihak perusahaan anjak piutang dan mengajukan limit kredit sehubungan dengan rencana ekspor. Dalam proses tersebut, perusahaan anjak piutang melakukan kerjasama dengan perusahaan serupa (import factor) di luar negeri, tempat negara tujuan ekspor. Pihak perusahaan anjak piutang di luar negeri melakukan serangkaian verifikasi terhadap calon importir. Apabila tidak ada permasalahan, eksportir mengirim barang dan menyerahkan faktur dengan dengan perintah bahwa importir melakukan pembayaran kepada perusahaan anjak piutang yang telah ditunjuk (import factor). Eksportir menyerahkan salinan faktur kepada perusahaan anjak piutang di dalam negeri (export factor) dan akan melakukan pembayaran kepada eksportir. Export factoruntuk melakukan penagihan kepada importir dan menerima pembayaran pada saat jatuh tempo.

 e. Berdasarkan Tipe Tagihan atau Piutang

– Anjak piutang untuk tagihan biasa
Anjak piutang untuk tagihan biasa pada dasarnya hanya melibatkan pihak klien, nasabah, dan factor. Pihak lain, biasanya bank, tidak ikt serta langsung dalam proses anjak piutang ini. Pengalihan tagihan hanya sebatas dari pihak klien kepada pihak factor, dan pada saat jatuh tempo factordapat melakukan penagihan kepada nasabah atau debitor.
– Anjak piutang untuk promes
Anjak piutang untuk promes melibatkan pihak lain, biasanya bank, dalam proses penagihan piutang. mekasnismenya menjadi sedikit lebih panjang karena bukti piutang dikonversikan menjadi promes untuk kemudian didiskontokan ke pihak lain (bank).

 f. Berdasarkan Pembayaran kepada Klien

– Advanced Payment
Yaitu transaksi anjak piutang dengan memberikan pembayaran di muka (prepayment financing) oleh perusahaan anjak piutang kepada klien berdasarkan penyerahan faktur yang besarnya berkisar 80% dari nilai faktur.
– Maturity
Yaitu transaksi pengalihan piutang yang pembayarannya dilakukan perusahaan anjak piutang pada saat piutang tersebut jatuh tempo. Pembayaran tagihan tersebut biasanya dilakukan berdasarkan rata-rata jatuh tempo tagihan (faktur). Untuk lebih jelasnya lihat kembali maturity factoring yang telah dibahas terdahulu.
– Collection
Yaitu transaksi pengalihan piutang yang pembayarannya akan dilakukan apabila perusahaan anjak piutang berhasil melakukan penagihan terhadap debitor.

Struktur Organisasi :

Atas dasar struktur organisasinya, perusahaan anjak piutang dapat dibedakan menjadi:

a. Struktur organisasi perusahaan anjak piutang berskala kecil
Perusahaan jasa anjak piutang berskala kecil biasanya hanya memberikan jasa-jasa pembiayaan.

Proses dasar dari kegiatan pembiayaan adalah :

– Analisis terhadap bonafiditas calon klien
– Analisis terhadap kolektibilitas piutang
– Pembayaran pembiayaan kepada klien
– Administrasi faktur dan bukti piutang
– Administrasi hak dan bukti piutang
– Penagihan piutang
– Pembayaran kepada klien

Struktur organisasi perusahaan anjak piutang berskala kecil

– Departemen Kredit adalah bagian dari perusahaan yang bertugas melakukan analisis terhadap bonafiditas calon klien dan kolektibilitas atau kualitas piutang yang akan dibiayai. Bidang usaha calon klien sangat beragam, maka analisis pada bagian ini biasanya sudah merujuk pada spealisasi pada bidang tertentu. Atas dasar pertimbangan serta untuk meningkatkan efisiensinya, masing-masing perusahaan jasa anjak piutang kecil biasanya mengacu pada bidang tertentu saja.
– Departemen Faktur adalah bagian perusahaan yang bertugas melakukan administrasi dokumen piutang agar dapat secara tepat dan cepat digunakan untuk perhitungan biaya, diskonto atau bunga dan jatuh tempo.
– Departemen Penyesuaian adalah bagian perusahaan yang bertugas melakukan administrasi dan pengelolaan perubahan-perubahan terhadap persyaratan perjanjian, jumlah piutang, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan hak dan kewajiban pihak-pihak terkait dalam anjak piutang.
– Departemen Penagihan adalah bagian perusahaan yang bertugas untuk melakukan penagihan piutang yang jatuh tempo.
– Departemen Rekening Klien adalah bagian dari perusahaan yang bertugas melakukan seluruh pencatatan terhadap semua transaksi atau kegiatan yang memengaruhi kewajiban dan hak klien.
– Departemen Legal adalah bagian dari perusahaan yang bertugas memberikan pertimbangan dan saran yuridis mengenai kegiatan-kegiatan perusahaan.

b. Struktur organisasi perusahaan anjak piutang berskala besar
Di samping memberikan jasa pembiayaan, perusahaan anjak piutang berskala besar juga menawarkan jasa nonpembiayaan, sehingga selain bagian-bagian lain seperti bagian umum, bagian komputer, bagian treasury, bagian relasi, bagian pengelolaan kredit, dan lain-lain. Tanggung jawab yang dimiliki oleh masing-masing bagian cenderung lebih spesifik, sehingga secara umum jumlah bagian-bagiannya menjadi lebih banyak. Bagian atau departemen yang menjadi sangat banyak biasanya dikelompokan menjadi hanya 3 sampai 5 divisi saja.

Manfaat Anjak Piutang :

a. Bagi Klien
Secara umum, manfaat jasa anjak piutang bagi klien adalah klien tmendapatkan kas langsung dari penjualannya dalam bulan berjalan dan tidak perlu menunggu waktusampai pembayaran dari konsumen dan klien tidak perlu lagi melakukan penagihan kepada konsumen karena perusahaan anjak piutang yang akan melakukan penagihan sekaligus memberikan informasi posisi piutang kepada klien. Namun secara khusus, manfaat jasa anjak piutang bagi klien dapat dibedakan menjadi 2, yaitu :

– Manfaat yang diterima karena menerima jasa pembiayaan
– Peningkatan penjualan
Adanya jasa pembiayaan memungkinkan klien melakukan penjualan dengan cara kredit. Penjualan dengan kredit ini sebenarnya sulit untuk dilakukan apabila klien sulit mengalami kesulitan modal. Namun dengan adanya jasa anjak piutang, klien mampu menjual secara kredit sehingga meningkatkn penjualan.
– Kelancaran modal kerja
Jasa anjak piutang memungkinkan klien untuk mengonversikan piutangnya yang belum jatuh tempo menjadi dana tunai dengan prosedur yang relatif mudah dan cepat. Tersedianya dana tunai yang lebih besar ini dapat dimanfaatkan oleh klien untuk mendanai kegiataan operasional klien seperti pembelian bahan baku, pembayaran gaji pegawai, pembayaran tagihan listrik dan lain-lain.
– Pengurangan risiko tidak tertagihnya piutang
Dengan jasa anjak piutang, adanya pengalihan sebagian risiko tidak tertagihnya piutang kepada factor. Pengalihan risiko ini sangat menguntungkan bagi kelancaran dan kepastian usaha bagi pihak klien.
– Manfaat yang diterima karena menerima jasa nonpembiayaan
– Memudahkan penagihan piutang
Jasa penagihan piutang yang diberikan oleh factor menyebabkan klien tidak perlu secara langsung melakukan penagihan piutang kepada nasabah, sehingga waktu dan tenaga karyawan dapat dimanfaatkan untuk melakukan kegiatan lain yang lebih produktif.
– Efisiensi usaha
Dengan jasa administrasi penjualan memungkinkan klien untuk mengelola kegiatan penjualannya secara lebih rapi dan efisien karena administrasinya dikelola oleh pihak (factor) yang sudah lebih berpengalaman.
– Peningkatan kualitas piutang
Jasa administrasi penjualan memungkinkan pemberian fasilitas kredit kepada pembeli secara lebih selektif sehingga kemungkinan tertagihnya piutang menjadi lebih tinggi.
– Memudahkan perencanaan arus kas (cash-flow)
Jasa investigasi kredit/piutang memungkinkan klien untuk melakukan perkiraan waktu dan jumlah piutang yang dapat ditagih, sehingga memudahkan proyeksi arus kas usaha secara keseluruhan.

b. Bagi Factor
– Discount fee/charge
Fee dibayarkan oleh klien karena factor memberikan jasa pembiayaan (uang muka) atas piutang yang diberikan oleh factor. Discount fee diperhitungkan sebesar persentase tertentu terhadap besarnya pembiayaan yang diberikan atas dasar :
– Risiko tertagih
– Jangka waktu
– Rata-rata tingkat bunga perbankan
– Service/charge
Fee ini dibayarkan oleh klien kepada factor karena factor memberikan jasa nonpembayaran yang nilainya ditentukan sebesar persentase tertentu dari piutang atas dasar beban kerja yang akan dilakukan oleh factor. Semakin besar volume penjualan, maka fee ini juga semakin besar. Semakin sulit penagihan piutang, maka fee ini juga semakin besar.

c. Bagi Nasabah
– Kesempatan untuk melakukan pembelian secara kredit
Dengan adanya jasa anjak piutang memungkinkan klien melakukan penjualan secara kredit.
– Layanan penjualan yang lebih baik
Jasa administrasi penjualan memungkinkan klien melakukan penjualan dengan lebih cepat dan tepat.

 

semoga bermanfaat🙂

 

obat sakit typus

4 Jul

Resep 1

1. Sambiloto 7 lembar
2. Meniran 3 pohon
3. Akar alang-alang 5 kilan
4. Pegagan 21 lembar

Cara membuat :
Semua bahan dicuci lalu direbus dalam 4 gelas air sehingga air tersisa 3 gelas. Angkat dan saring. Minum 3 kali sehari masing-masing sebanyak 2/3 gelas, 2 jam sesudah makan. Setelah minum ramuan diikuti dengan minum madu atau sarikorma.

Resep 2.
1. Lidah Buaya 1 pelepah ukuran sedang
2. Temulawak sebesar telut itik

Cara membuat :
Lidah buaya buang kulitnya iris/potong-potong bersama temulawak
Rebus dengan air 4 gelas jadi 2 gelas dibagi jadi 3 bagian minum pagi-siang-sore.
Setelah minum rebusan minum madu 3 sendok, lidah buayanya dimakan.

Resep 3
1. Cacing Kalung 3 ekor

Cara membuat :
Puasakan/diamkan cacing semalam kemudian dijemur, setelah kering di tumbuk dan diseduh air panas lakukan sehari 3x

Saran :
Jika kondisi lemah perbanyak minum sarikurma atau jus jambu biji merah.Dan usahakan untuk makan-makanan yang lembut seperti bubur.

SISTEM EKONOMI ISLAM DAN KESEJAHTERAAN

4 Jul

Sebelum datangnya Islam, kehidupan masyarakat pada saat itu sangat buruk, diantaranya para bankir yahudi mulai mewarnai kehidupan masyarakat arab dengan cengkraman riba. Perekonomian Arab ketika itu adalah adalah ekonomi dagang bukan ekonomi yang berbasis sumber daya alam; minyak bumi belum ditemukan dan sumber daya alam lainnya terbatas.Pada zaman Rasulullah sumber hukum ekonomi Islam adalah Al-Qur’an dan Al-hadits

Sebagai bagian dari operasional konsep ekonomi Islam, Rasulullah SAW mendirikan Baitul Maal (rumah harta atau kas negara) yaitu suatu lembaga yang diadakan dalam pemerintahan Islam untuk mengurus masalah keuangan negara Dan Rosulullah Saw segera membuang sebagian besar tradisidan nilai-nilai yang bertentangan dengan ajaran islam dari seluruh aspek kehidupan masyarakat muslim, karenanya Rosulullah Saw segera meletakkan dasar-dasar kehidupan masyarakat, yaitu : (Euis Amalia: 2005: 75-77)

  1. Membangun mesjid sebagai islamic centre
  2. Menjalin ukhuwah islamiyyah antara kaum muhajirin dengan kaum anshor
  3. Menjalin kedamaian dalam negara
  4. Mengeluarkan hak dan kewajiban bagi warga negaranya
  5. Membuat konstitusi negara
  6. Menyusun sistem pertahanan negara
  7. Meletakkan dasar dasar keuangan negara
  • Dari kutipan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa :
  • Sejak datangnya islam yang dibawa Rasulullah Saw kehidupan perekonomian yang tadinya sangat buruk dan masyarakat hidup di tengah cengkraman riba  menjadi lebih baik, islami, dan kehidupan masyarakat menjadi lebih sejahtera.
  • Rosulullah Saw merupakan penyelamat dan penolong dalam kehidupan perekonomian masyarakat, karena kehidupan masyarakat pada saat itu sangat buruk, tidak ada keadilan, tidak ada pengaturan tentang hak dan kewajiban bagi warga negara, karena masyarakatnya belum mengenal operasional konsep ekonomi islam.

Ekonomi islam adalah ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari masalah ekonomi rakyat yang di ilhami oleh nilai-nilai islam (M.A. Manan : 1992:19)

Ekonomi islam adalah kumpulan dasar-dasar umum ekonomi yang disimpulkan dari al-Quran dan sunnah yang ada hubungannya dengan urusan ekonomi. (H.Halide :1988 : 3)

Dari kedua kutipan diatas dapat disimpulkan bahwa :

  • Ekonomi islam adalah ilmu pengetahuan sosial ekonomi yang didasarkan kepada al-quran dan sunnah.
  • Ekonomi islam merupakan ilmu yang mempelajari perilaku ekonomi manusia yang diatur berdasarkan aturan agama islam dan sesuai dengan ketentuan Al-Quran dan sunnah.

Prinsip-prinsip kebijakan ekonomi islam (Euis amalia : 2005 : 77)  adalah:

  1. Allah Swt adalah penguasa tertinggi sekaligus pemilik absolut seluruh alam semesta
  2. Manusia hanyalah khalifah Allah Swt di muka bumi, bukan pemilik yang sebenarnya
  3. Semua yang dimiliki dan didapatkan manusia adalah seizin Allah Swt. Oleh karena itu manusia yang kurang beruntung mempunyai hak atas sebagian kekayaan yang dimiliki manusia lain yang lebih beruntung .
  4. Kekayaan harus berputar dan tidak boleh ditimbun.
  5. Eksploitasi ekonomi dalam segala bentuknya, termasuk riba, harus dihilangkan.
  6. Menerapkan sistem warisan sebagai media re-distribusi kekayaan.
  7. Menetapkan kewajiban bagi seluruh individu, termasuk orang-orang miskin .

 Dari kutipan diatas dapat diketahui bahwa :

  1. Maksudnya seluruh alam semesta dan berbagai sumber daya di bumi ini adalah hanyalah sebagai pemberian atau titipan Allah Swt kepada manusia
  2. Semua yang didapatkan manusia adalah atas seizin Allah Swt dan pasti akan kembali kepada Allah Swt.
  3. Maksud nya adalah sebagian dari rezeki yang telah kita dapat sebagian ada hak kaum yang kurang mampu, oleh karena itu kita harus bersedekah .
  4. Kekayaan tidak boleh dikuasai oleh segelintir orang saja, selain bisa berakibat mandegnya perekonomian, dan pasti akan menimbulkan iri hati dan perselisihan diantara manusia dan sebagai seorang muslim kita harus takut kepada Allah Swt karena Allah Swt akan memberikan azab yang pedih bagi orang yang serakah.
  5. Tentu saja riba harus dihilangkan karena dalam Al Quran pun riba dinyatakan haram karena bagi yang memberi dan yang berhutang sama sama menanggung dosa.  Bagi yang memberi mendapat keuntungan dengan memungut bunga pinjaman dan itu adalah haram  sedangkan bagi yang mendapat pinjaman harus mengembalikan pinjaman sebanyak 2x lipat tentu saja itu akan memberatkan mereka dan akan membawa sang peminjam kepada kesengsaraan, oleh karena itu riba diharamkan oleh islam karena dampaknya sangat buruk bagi manusia
  6. Tentu saja sistem warisan harus ditetapkan sesuai dengan aturan islam, karena harta sifatnya sangat sensitif , sebab karena kekacauan pembagian harta waris sering terjadi perselisihan antara keluarga. Untuk itulah islam mengatur urusan ini secara mendetail.
  7. Menetapkan Kewajiban seluruh individu, menurut kelompok kami kewajiban disini mungkin maksudnya dengan membayarkan zakat atas kekayaan yang telah melebihi batas nisab , dan bagi orang miskin wajib membayarkan zakat fitrahnya

Tujuan ekonomi islam :

a. Mewujudkan pertumbuhan ekonomi dalam Negara
b. Mewujudkan kesejahteraan manusia
c. Mewujudkan sistem distribusi kekayaan yang adil

Tujuan ekonomi dalam islam dijabarkan menjadi 3 hal yang pertama “mewujudkan pertumbuhan ekonomi dalam negara” alasannya menurut kelompok kami dengan pertumbuhan ekonomi yang berkembang dengan baik negara dapat melakukan pembangunan, bisa dengan cara mendatangkan investasi baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Yang kedua “Mewujudkan kesejahteraan manusia” menurut kelompok kami dengan memahami dan menjalani sitem perokonomian islam yang aturan-aturannya bersumber dari Al-Quran maka tentu saja akan tercipta kesejahteraan manusia, karena Al-Quran akan membawa kita pada kebaikan, dan bila kita tidak menjalani sitem ekonomi islam yang aturan-aturannya sudah ada dalam Al-quran maka itu akan membawa kita pada kesengsaraan baik di kehidupan dunia maupun di akhirat kelak. Yang ketiga “Mewujudkan sistem distribusi kekayaan yang adil” menurut kelompok kami setiap manusia dilahirkan dengan kemampuan yang berbeda-beda begitupun kemampuan mereka dalam mengumpulkan kekayaan, dalam hal ini kehadiran ekonomi islam bertujuan membangun mekanisme distribusi kekayaan yang adil di tengah-tengah masyarakat, sebagai contoh islam sangat melarang praktek penimbunan kekayaan oleh segelintir atau sekelompok orang saja sedangkan ekonomi islam memerintahkan sirkulasi kekayaan haruslah merata tidak boleh hanya berputar di sekelompok kecil masyarakat saja dan dalam rangka mencegah praktek monopolistik ini pemerintah mempunyai andil karena negara mempunyai wewenang dan otoritas.

  • Dari kutipan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa tujuan ekonomi islam adalah mewujudkan pertumbuhan ekonomi dan sistem distribusi kekayaan yang adil untuk mewujudkan kesejahteraan kehidupan manusia.

Instrumen kebijakan fiskal pada zaman Rasulullah Saw (Euis amalia: 2005: 80) :

  1. Peningkatan pendapatan nasional dan tingkat partisipasi kerja dalam rangka meningkatkan permintaan agregat masyarakat muslim di madinah ( permintaan seluruh muslim di madinah), Rasulullah Saw melakukan kebijakan mempersaudarakan kaum muhajirin dengan kaum anshar yaitu dengan menerapkan kebijakan penyediaan lapangan kerja bagi kaum muhajirin, sekaligus peningkatan pendapatan nasional kaum muslimin.
  2. Kebijakan pajak. Penerapan kebijakan pajak yang dilakukan Rasulullah Saw (seperti zakat) menyebabkan terciptanya kestabilan harga dan mengurangi tingkat inflasi. Kebijakan ini juga tidak menyebabkan penurunan harga ataupun jumlah produksi.
  3. Anggaran. Pengaturan APBN yang dilakukan Rasulullah Saw secara cermat, efektif dan efisien menyebabkan jarang terjadinya defisit anggaran meskipun sering terjadi peperangan
  4. Kebijakan fiskal khusus. Rasulullah menerapkan kebijakan yaitu meminta bantuan kaum muslimin secara sukarela untuk memenuhi kebutuhan pasukan muslim dengan meminjam peralatan dari kaum non muslim secara Cuma-Cuma dengan jaminan pengembalian dan ganti rugi bila terjadi kerusakan.

 

  • Dari kutipan diatas dapat disimpulkan bahwa :
  • Pada zaman Rasulullah itu sudah adanya usaha peningkatan pendapatan nasional, sudah diterapkannya pajak, dan sudah melakukan penganggaran dalam soal keuangan dengan aturan-aturan yang telah diajarkan islam.
  • Dalam ekonomi islam anggaran negara dilakukan Rasulullah secara efektif, cermat dan efisien tanpa adanya penyimpangan  sehingga jarang mengalami defisit anggaran. Bisa kita jadikan contoh untuk diterapkan terhadap perekonomian di negara kita, supaya anggaran yang ada dapat dialokasikan sesuai dengan kepentingannya dan dibutuhkan pemimpin yang jujur, bertanggung jawab dan memahami sistem perekonomian islam sehingga tidak mengalami defisit anggaran dan negara akan sejahtera. Karena kejujuran adalah kunci dari keberhasilan.

 

Kebijakan moneter

Seperti yang telah dikemukakan bahwa mata uang yang digunakan bangsa arab baik sebelum islam maupun sesudahnya adalah dinar dan dirham. Kedua mata uang tersebut memiliki nilai yang tetap dan tidak ada masalah dalam perputaran uang. (Euis Amalia: 2005: 81-87)

  1. Penawaran dan permintaan uang. Pada masa pemerintahan nabi Muhammad Saw, kedua mata uang tersebut di impor, dinar dari Romawi dan Dirham dari persia. Uang akan diimpor jika permintaan uang pada pasar internal(pasar dalam negri) mengalami kenaikan dan begitupun sebaliknya. Selama pemerintahan nabi Muhammad Saw, uang tidak dipenuhi dari keuangan negara semata, tetapi juga dari hasil perdagangan luar negri, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pada awal periode islam penawaran uang terhadap pendapatan sangat elastis dan nilai uang stabil
  2. Pemercepatan peredaran uang. Faktor lain yang berpengaruh terhadap stabilitas nilai uang adalah pemercepat peredaran keuangan. Sistem pemerintahan yang legal dan khususnya perangkat hukum yang tegas dalam menentukan peraturan etika dagang dan penggunan uang memiliki pengaruh yang signifikan dalam meningkatkan pemercepatan peredaran uang. Tindakan Rosulullah Saw mendorong masyarakat untuk mengadakan akad kerjasama sehingga memperkuat pemercepatan peredaran uang. Penghapusan struktur monopoli dari pasar perdagangan telah meningkatkan efisiensi pertukaran dan membawa perekonomian kepada distribusi pendapatan yang lebih baik. oleh karena itu permintaan efektif mengalami kenaikan dalam pasar, begitu pula dengan  permintaan transaksi terhadap uang yang akan mempercepat peredaran uang.oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa disamping peningkatan volume aktifitas ekonomi, pemercepatan peredaran uang juga mengalami kenaikan
  3. Pengaruh kebijakan fiskal terhadap nilai uang. Pada awal awal masa pemerintahan Rosulullh Saw, perekonomian mengalami penyusutan permintaan efektif. Perpindahan kaum muslimin dari mekkah ke madinah yang tidak dibekali dengan kekayaan, simpanan dan keahlian menciptakan keseimbangan perekonomian yang rendah. Sejumlah peperangan telah menyerap banyak tenaga kerja yang seharusnya dapat dipergunakan untuk pekerjaan produktif. Kebijakan lain yang dilakukuan Rosulullah Saw adalah memberikan kesempatan yang lebih besar kepada kaum muslimin dalam melakukan aktifitas produktif dan ketenagakerjaan. Oleh karena itu kapasitas aktifitas perdagangan dan pertanian berkembang di madinah. Berbagai kebijakan ini meningkatkan penawaran agregard masyarakat madinah. Peningkatan ini membawa perekonomian dan stabilitas nilai mata uang kepada suatu tingkat keseimbangan yang lebih tinggi
  4. Mobilisasi dan utilisasi tabungan. Salah satu tujuan khusus perekonomian pada awal perkembangan islam adalah penginvestasian tabungan yang dimiliki masyarakat. Hal ini diwujudkan dengan dua cara yaitu dengan mengembangkan peluang investasi islami secara legal dan mencegah kebocoran penggunaan tabungan untuk tujuan yang tidak islami. Pada awal masa islam, melalui berbagai cara pemerintah menyediakan fasilitas yang beorientasi investasi yaitu memberikan berbagai kemudahan bagi produsen untuk berproduksi dan memberikan keuntungan pajak terutama bagi unit produksi baru. Metode perpajakan islam tidak membahayakan karena penarikan pajak dilakukan secara proporsional serta meningkatkan efisiensi produksi sektor swasta dan peran serta masyarakat dalam berinvestasi. Untuk menyalurkan tabungan dalam kegiatan investasi adalah infaq dan wakaf karena terdapat unsur religi dan spiritual .

  • Dari kutipan diatas kesimpulannya adalah :
  • Ekspor dan impor sudah ada sejak zaman Rasulullah dan fungsi uang sudah diterapkan yaitu sebagai alat untuk bertransaksi dan untuk berspekulasi (investasi), berjaga-jaga (tabungan)
  • Islam itu adalah agama yang membawa kebaikan dan kesejahteraan bagi manusia. Islam tidak hanya mengejar kesejahteraan akhirat tetapi juga mengajarkan kita bagaimana caranya supaya kita bisa sejahtera di dunia, dengan cara pengelolaan ekonomi yang teratur sesuai dengan ajaran islam, serta tidak melanggar hak orang lain.

Kebijakan Perbankan Sebelum dan Sesudah Krisis

4 Jul

Faktor Penyebab Terjadinya Krisis Perbankan 1997/1998

@Kondisi Perbankan sebelum dan pada Awal Krisis

Sampai dengan pertengahan tahun 1997, kegiatan perbankan secara umum masih berkembang dengan kecepatan tinggi. Mobilisasi dana masyarakat meningkat pesat sementara ekspansi kredit tetap kuat, terutama ke sektor properti. Ekspansi berlebihan juga telah menyebabkan kewajiban perbankan dalam valuta asing, khususnya pada bank swasta nasional, meningkat tajam sebagaimana tercermin dari memburuknya posisi devisa netto dan makin besarnya rekening administratif dalam valuta asing perbankan selama tiga tahun terakhir. Di sisi lain, kredit tidak lancar pada beberapa bank nasional cenderung meningkat dan efisiensi usaha memburuk.

Kerentanan tersebut tidak lepas dari berbagai kelemahan fundamental industri perbankan yang sudah terakumulasi sejak beberapa tahun sebelumnya. Terdapat lima faktor yang menyebabkan kondisi mikro perbankan menjadi rentan terhadap gejolak ekonomi pada masa itu, yaitu:

1. Relatif lemahnya kemampuan manajerial bank telah mengakibatkan penurunan kualitas aset produktif dan peningkatan risiko yang dihadapi bank. Situasi ini diperburuk pula oleh lemahnya pengawasan dan sistem informasi internal didalam memantau, mendeteksi, dan menyelesaikan kredit bermasalah serta posisi risiko yang berlebihan. Besarnya pemberian kredit dan jaminan baik secara langsung maupun tidak langsung kepada individu atau kelompok usaha yang terkait dengan bank, telah mendorong tingginya risiko kemacetan kredit yang dihadapi bank.

2. Adanya jaminan terselubung dari bank sentral atas kelangsungan hidup suatu bank untuk mencegah kegagalan sistematik dalam industri perbankan sehingga risiko yang dihadapi perbankan sebagai akibat dari kesulian likuiditas secara praktis tergeser kepada bank sentral.

3. Kurang transparannya informasi mengenai kondisi perbankan selain telah mengakibatkan kesulitan dalam melakukan analisis secara akurat tentang kondisi keuangan suatu bank, juga telah melemahkan upaya untuk melakukan kontrol sosial dan menciptakan disiplin pasar. Hal-hal tersebut berakibat ikut mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap perbankan

4. Sistem pengawasan oleh bank sentral kurang efektif karena belum sepenuhnya dapat mengimbangi pesat dan kompleksnya kegiatan operasional perbankan. Hal ini telah mendorong perbankan nasional mengabaikan prinsip kehati-hatian dalam kegiatan operasional mereka. Meskipun ketentuan kehati-hatian perbankan di Indonesia telah mengikuti standar dari Bank for International Settlements (BIS), lemahnya penegakan hukum dan kurangnya independensi bank sentral menyebabkan langkah-langkah koreksi tidak dapat dilakukan secara efektif.

Awal kesulitan mulai terjadi ketika nilai tukar rupiah mulai melemah sejak Juli 1997, perbankan nasional mulai terkena imbasnya. Melemahnya nilai tukar rupiah mengakibatkan kewajiban bank dalam mata uang rupiah untuk memenuhi kewajiban yang terdenomasi valuta asing naik secara tajam. Akibatnya bank-bank sulit untuk memenuhi penarikan dana oleh para kreditur. Melemahnya nilai tukar rupiah menjadi pemicu awal gelombang kesulitan likuiditas pada perbankan. Krisis perbankan tahun 1997-1998 dapat dibagi menjadi tiga tahap, Tahap pertama yaitu tahap awal kebijakan mengatasi kesulitan likuiditas perbankan dimulai sejak krisis berlangsung, yaitu pada saat kepercayaan terhadap perbankan semakin merosot. Tahap selanjutnya adalah tahap meredakan krisis dan terakhir adalah tahap restrukturisasi perbankan, yaitu pemulihan kembali perbankan.

 

@ Kebijakan Awal Mengatasi Kesulitan Likuiditas Perbankan

Menghadapi kesulitan perbankan tersebut diatas, Bank Indonesia membawa masalah ini ke dalam Sidang Kabinet Terbatas Bidang Ekonomi, Keuangan, Pengawasan Pembangunan dan Produksi Distribusi pada 3 September 1997. Pada sidang kabinet tersebut, Presiden memutuskan antara lain agar Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia mengambil langkah-langkah sebagai berikut:

· Agar diupayakan penggabungan atau akuisisi terhadap bank-bank yang secara nyata tidak sehat oleh bank yang sehat.

· Jika upaya ini tidak berhasil, bank-bank tersebut supaya dilikuidasi sesuai peraturan perundangan yang berlaku dengan mengamankan semaksimal mungkin penabung, terutama pemilik simpanan kecil.

Sebagai langkah awal penyehatan perbankan yang dirumuskan oleh Pemerintah Republik Indonesia dengan dukungan IMF disepakati bahwa tindakan melikuidasi bank yang tidak solvent merupakan sesuatu yang perlu dilakukan dalam rangka restrukturisasi perbankan.

Dalam Rapat Direksi Bank Indonesia, dikemukakan bahwa pihak Bank Indonesia menyampaikan tujuh bank swasta nasional yang layak dicabut izin usaha mereka. Namun IMF tidak puas dengan tujuh bank, karena menurut mereka market menghendaki lebih dari tujuh bank. Setelah melalui serangkaian kajian disepakati 16 bank yang dilikuidasi, antara lain :

1. Bank Harapan Sentosa

2. Sejahtera Bank Umum

3. Bank Pacific

4. South East Asian Bank

5. Bank Pinaesaan

6. Bank Anrico

7. Bank Umum Majapahit Jaya

8. Bank Industri

9. Bank Jakarta

10. Bank Astria Raya

11. Bank Guna Internasional

12. Bank Dwipa Semesta

13. Bank Kosagraha Semesta

14. Bank Citrahasta Danamanunggal

15. Bank Andromeda

16. Bank Mataram Dhanaarta

Penutupan 16 bank yang tidak solvent merupakan bagian dari restrukturisasi sektor keuangan, bahkan sebenarnya tindakan ini merupakan syarat awal dari pinjaman IMF. Pencabutan izin usaha terhadap 16 bank yang semula dimaksudkan untuk penyehatan perbankan guna mengembalikan kepercayaan masyarakat justru memberikan hasil yang sangat jauh dari perhitungan. Masyarakat yang mengetahui bahwa jumlah simpanan yang dibayarkan pada 16 bank yang dilikuidasi hanya sebesar Rp 20 juta sedangkan sisa simpanan diatas Rp 20 juta melakukan penarikan dana tunai secara besar-besaran dan pemindahan dana dari bank-bank yang dianggap lemah ke bank-bank yang dinilai kuat. Akibatnya, bank-bank yang dianggap kuat juga ikut terkena dampak krisis kepercayaan tersebut.

@  Kebijakan Lanjutan Meredakan Krisis Perbankan

Kebijakan lanjutan ini dimulai dengan pelaksanaan kebijakan unutk meredam krisis perbankan dengan program restrukturisasi perbankan sebagai bagian dari restrukturisasi sektor keuangan. Rumusan tersebut berupa :

1. Program jaminan oleh pemerintah yang diyakini sebagai cara terbaik untuk memperbaiki kondisi perbankan sambil memulihkan kembali kepercayaan masyarakat. Pemerintah memperkenalkan program ini sebagai program penjaminan pemerintah atas kewajiban bank umum terhadap para deposan dan kreditur.

2. Pembentukan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN)
Keberadaan lembaga ini pada awalnya terfokus pada identifikasi upaya-upaya untuk merehabilitasi bank-bank bermasalah yang diserahkan Bank Indonesia, karena telah menikmati bantuan likuiditas sebesar 200% dan atau memiliki CAR kurang dari 5%. Dengan dukungan BPPN ini, Bank Indonesia diharapkan mampu lebih efektif dalam melakukan pengawasan terhadap bank-bank lainnya.

 @ Restrukturisasi Perbankan 

Dengan meredanya kesulitan likuiditas perbankan dan berkurangnya gelombang penarikan dana, Pemerintah dan Bank Indonesia kemudian menyiapkan program restrukturisasi perbankan. Program ini bertujuan unutk mengatasi dampak krisis dan menghindari terjadinya krisis serupa di masa datang. Restrukturisasi perbankan dikelompokkan melalui empat aspek, yaitu :

1. Rekapitalisasi Perbankan. 

Rekapitalisasi bank-bank merupakan langkah strategis untuk memperbaiki permodalan bank. Rekapitalisasi ini terdiri dari:

# Rekapitalisasi bank-bank yang viable untuk dapat menjadi sehat dan mencapai rasio kecukupan modal minimum sebesar 8% pada tahun 2001.

# Pembersihan bank-bank dari pemilik dan pengurus yang tidak memenuhi persyaratan sebagai pemilik dan pengurus bank (tidak fit and proper)

# Penutupan bagi bank-bank yang diperkirakan tidak mampu bertahan.

# Penyelesaian aset-aset bank yang ditutup.

# Penyelesaian kredit macet perbankan, dengan mengalihkan ke Asset Management Unit dan menghapusbukukan dari bank-bank yang direkapitalisasi.

 2. Restukturisasi Kredit. 

Aspek ini sangat menentukan keberhasilan program restrukturisasi perbankan dan program penyehatan perekonomian secara keseluruhan. Restrukturisasi kredit yang dilakukan ini melengkapi restrukturisasi kredit dan aset perbankan lainnya yang dilakukan oleh BPPN dan diharapkan dapat memperbaiki pembukuan bank, serta menggairahkan para debiturnya untuk kembali berproduksi (yang berarti menggerakkan sektor riil).

 3. Langkah-langkah lainnya.

Selanjutnya ditempuh langkah pengembangan infrastruktur perbankan untuk meningkatkan daya tahan bank menghadapi berbagi gejolak. Salah satunya dengan pendirian Lembaga Penjamin Simpanan dan Pengambangan Bank Syariah. Selain itu, dilakukan fungsi pengawasan bank dengan mengutamakan penegakan aturan dan meningkatkan frekuensi pemeriksaan bank yang difokuskan pada risiko yang dihadapi oleh setiap bank.

 4. Tingkat kewenangan Bank Indonesia dalam menetapkan kebijakan. 

Seperti diketahui sebelumnya, sebelum diberlakukannya Undang-Undang No. 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia, landasan hukum bagi Bank Indonesia sebagai bank sentral adalah Undang-undang no.13 tahun 1968 tentang Bank Sentral. Dalam Undang-undang yang lama ditetapkan bahwa dalam menjalankan tugasnya Bank Indonesia mengacu pada kebijakan yang dilakukan oleh Dewan Moneter. Hal ini mencerminkan kekurangtegasan dalam pembagian tugas dan tanggung jawab antara bank Indonesia dengan pemerintah, serta mencerminkan pula keterbatasan wewenang Bank Indonesia dalam melaksanakan kebijakan moneter dan perbankan. Terbatasnya kewenangan tersebut berakibat kurang efektifnya langkah-langkah yang ditempuh oleh Bank Indonesia dalam mengatasi krisis moneter yang terjadi. Atas dasar pengalaman tersebut, lahirlah UU no. 23 tahun 1999 yang mengandung dua aspek:

# Kebebasan/independensi yang diberikan kepada Bank Indonesia tanpa boleh dicampur tangani oleh pemerintah atau pihak-pihak lainnya. independensi ini merupakan upaya agar Bank Indonesia tetap fokus kepada upaya menjaga kestabilan nilai rupiah dalam kondisi politik yang dapat berubah.

# Tujuan Bank Indonesia yang lebih terfokus, yaitu mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah.

Secara bersama-sama kedua aspek tersebut bagi Bank Indonesia akan merupakan tanggung jawab profesionalisme agar kestabilan nilai rupiah dapat dipelihara secara terus menerus dan dilain pihak dapat memberikan harapan yang lebih baik bagi semua pihak, termasuk dunia usaha, bahwa kepastian iklim usaha di masa mendatang dapat lebih terjamin dengan stabilnya nilai rupiah.

Sebelum terjadinya krisis ekonomi yang diawali dari krisis rupiah yang terjadi pada pertengahan 1997 kemudian diikuti dengan krisis moneter dan segera menjadi krisis ekonomi sejak akhir 1997, perekonomian Indonesia dalam beberapa tahun terakhir apabila diamati terlihat semakin meningkatnya kepercayaan terhadap kestabilan ekonomi makro. Indikasi tersebut dapat tercermin dari semakin terintegrasinya perekonomian Indonesia dengan perekonomian dunia yang dibarengi dengan semakin meningkatnya aliran masuk modal asing.

Kegiatan ekonomi Indonesia dalam tahun 1996 juga masih cukup kuat. Masih kuatnya kegiatan ekonomi domestik ini juga akan mendorong tetap tingginya permintaan masyarakat terhadap likuiditas. Keadaan ini apabila tidak dikendalikan secara hati-hati akan menghasilkan pertumbuhan besar-besaran moneter yang tetap tinggi yang apabila dibiarkan akan menyebabkan tekanan-tekanan pada harga dan neraca pembayaran.

Dalam kondisi ekonomi yang semakin kompleks pengendalian moneter tidak cukup dilakukan hanya dengan satu atau dua instrumen saja. Berbagai instrumen kebijakan moneter yang digunakan Bank Indonesia untuk mempengaruhi besar-besaran moneter antara lain sebagai berikut:

 # Operasi pasar terbuka. Ini dilakukan melalui penjualan dan pembelian surat berharga SBI dan SBPU. Untuk lebih mengefektifkan operasi pasar terbuka ini, Bank Indonesia telah mengembangkan kedua instrumen tersebut dengan menambahkan fasilitas repurchase agreement (repo) ke masing-masing instrumen sehingga saat ini dikenal SBI repo dan SBPU repo.

# Fasilitas diskonto. Fasilitas diskonto ini disediakan bagi bank-bank dalam rangka memperlancar pengaturan likuiditas sehari-hari, khususnya bank yang menghadapi maturity mismatch antara penanam dan pendananya. Fasilitas diskonto dilakukan dengan cara penjualan surat berharga repo atau penjaminan surat berharga. Surat berharga yang dewasa ini dapat dipergunakan adalah SBI dan atau SBPU yang diendos oleh bank lain.

 # Giro Wajib Minimum (GWM). Untuk pertama kalinya sejak Pakto 1988 Bank Indonesia menggunakan GWM untuk mengerem pertumbuhan besar-besaran moneter yang masih tinggi yaitu dengan menetapkan GWM menjadi 3% pada Februari 1996 (ketentuan likuiditas wajib minimum sebelumnya menurut Pakto 1988 adalah 2%). GWM pada dasarnya adalah sejumlah minimum dana yang harus selalu tersedia pada saldo giro setiap bank pada Bank Indonesia. Keharusan menyediakan sejumlah minimum dana ini juga disebut likuiditas wajib minimum (statutory reserve requirement) yang saat ini sebesar 5% dari dana pihak ketiga yang dihimpun berlaku sejak April 1997.

# Persuasi moral. Kebijakan ini dilakukan oleh Bank Indonesia dengan meminta atau mengimbau bank-bank untuk selalu mempertimbangkan kondisi makro ekonomi maupun kondisi mikro masing-masing bank dalam menyusun rencana ekspansi kredit yang realitas. Kebijakan persuasi moral atau moral suasion ini pada dasarnya dimaksudkan untuk mendorong perbankan agar senantiasa menerapkan prinsip kehati-hatian dalam memberikan kredit, namun dengan tetap memberikan kebebasan bagi perbankan untuk tumbuh dan berkembang berdasarkan mekanisme pasar.

analisis laporan keuangan PT BCA Tbk

25 Mei

ini nih aku kasih berkas tugas ku semester 6 kemarin🙂

PT BANK CENTRAL ASIA Tbk

Laporan keuangan per 31 Desember

 

(dalam jutaan rupiah, kecuali dinyatakan lain)

ASET

2012

2011

 

Kas

11.054.208

10.355.620

Giro pada bank BI

33.848.000

31.881.075

Giro pada bank lain

4.483.354

2.499.443

Penempatan pada bank indonesia dan bank lain lain

28.802.130

43.010.506

Aset keuangan untuk diperdagangkan

1.441.725

2.567.832

Tagihan akseptasi setelah dikurangi cadangan kerugian penurunan nilai sebesar Rp 61.824. pada 31 desember 2012 (2011: Rp 249.858 dan 2010: Rp 256.295)

7.715.371

5.342.854

Wesel tagih setelah dikurangi cadangan kerugian penurunan nilai sebesar Rp 336 pada 31 desember 2012 (2011: Rp 605 dan 2010: Rp 1.310)

1.946.793

1.273.598

Efek efek yang dibeli dengan janji akan dijual kembali

34.448.535

21.201.164

Kredit yang diberikan setelah dikurangi cadangan kerugian penurunan nilai sebesar Rp 4.017.408   pada 31 desember 2012 (2011: Rp 3.814.573 dan 2010: Rp 3.906.411)
Pihak berelasi

549.450

790.454

Pihak ketiga

252.211.007

197.649.900

Piutang pembiayaan konsumen setelah dikurangi cadangan kerugian penurunan nilai sebesar RP 76.401  pada 31 desember 2012 (2011: Rp 39.992 dan 2010: Rp 40.504)

4.487.552

3.498.699

Investasi sewa pembiayaan bersih setelah dikurangi cadangan kerugian penurunan nilai sebesar Rp 2.952  pada 31 desember 2012 (2011: Rp 492 dan 2010: Rp 196)

104.246

11.121

ASET

2012

2011

Pindahan

381.092.371

320.082.266

Pembiayaan syariah  setelah dikurangi cadangan kerugian penurunan nilai sebesar Rp 8.950 pada 31 desember 2012 (2011: Rp 5.448 dan 2010: Rp 2.196)

999.375

675.875

Efek efek untuk tujuan investasi  setelah dikurangi cadangan kerugian penurunan nilai sebesar Rp 629.498 pada 31 desember 2012 (2011: Rp 549.660 dan 2010: Rp 351.146)

47.310.371

52.002.140

Aset tetap setelah dikurangi akumulasi penyusutan sebesar Rp 4.213.740  pada 31 desember 2012 (2011: Rp 3.673.737 dan 201: Rp 3.418.248)

6.406.625

4.144.659

Aset pajak tanggungan bersih

919.802

798.382

Aset lain lain  setelah dikurangi cadangan kerugian penurunan nilai sebesar Rp 4.927 pada 31 desember 2012 (2011: Rp 4.912 dan 2010: Rp 38.760)
Pihak berelasi

305.685

318.581

Pihak ketiga

5.959.968

3.866.450

JUMLAH ASET

442.994.197

318.908.353

LIABILITAS DAN EKUITAS
LIABILITAS 2012 2011

Simpanan dari nasabah

Pihak berelasi 1.484.745 836.835
Pihak ketiga 368.789.454 322.590.757

Dana simpanan syariah

232.813 148.628

Simpanan dari bank bank lain

2.330.295 3.466.962

Liabilitas keuangan untuk diperdagangkan

48.474 44.393

Utang akseptasi

5.839.495 4.043.322

Efek efek utang yang diterbitkan

2.521.877 1.481.018

Liabilitas pajak kini

216.614 216.614

Pinjaman yang diterima

128.018 449.188

Liabilitas imbalan pasca kerja

2.854.612 2.251.449

Beban yang masih harus dibayar dan liabilitas lain lain

5.620.847 3.693.094

JUMLAH  LIABILITAS

390.067.244 339.165.506

Dana syirkah temporer

1.029.011 715.507
 
EKUITAS 2012 2011

Ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk

   

Modal saham-nilai nominal Rp 62,50 (nilai penuh) per saham. Modal dasar : 88.000.000.000 lembar saham. Modal ditempatkan dan disetor penuh : 24.655.010.000 lembar saham

 

 

1.540.938

 

 

1.540.938

Tambahan modal disetor

4.396.429 3.895.933

Modal saham diperoleh kembali (saham treasuri), harga perolehan : 198.781 saham pada 31 desember 2012 (2011 dan 2010: 289.767.000 saham)

 

 

(617.589)

 

 

(808.585)

Selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan dalam valuta asing

221.688 200.5545

Keuntungan yang belum direalisasi atas aset keuangan yang tersedia untuk dijual – bersih

 

857.070

 

695.412

Selisih nilai transaksi restrukturisasi entitas sepengendali

(111.193) (111.193)

Saldo laba

   

Telah ditentukan penggunannya

653.094 544.901

Belum ditentukan penggunannya

44.881.084 36.036.973

Komponen ekuitas lainnya

5.254 7.983

Jumlah ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk

51.826.775 42.002.916

Kepentingan non pengendali

71.167 24.424

JUMLAH   EKUITAS

51.897.942 42.027.340

   

JUMLAH  LIABILITAS DAN  EKUITAS

442.994.197 381.908.353

 

 

diatas adalah lampiran laporan keuangan tahunan PT.BCA Tbk tahun 2011 dan 2011. Laporan keuangan ini diharapkan bisa memberi informasi mengenai kondisi, gambaran prospek dan risiko perusahaan bca dalam jangka waktu periode 2011 – 2012. Laporan keuangan ini memuat informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan PT.BCA.Tbk yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan.

PT BANK CENTRAL ASIA Tbk

Laporan Laba Rugi

Untuk tahun yang berakhir 31 Desember

 

PENDAPATAN DAN BEBAN OPERASIONAL 2012 2011

Pendapatan bunga

28.885.290 25.783.993

Beban bunga

(7.647.167) (7.730.157)

Pendapatan bunga bersih

21.238.123 18.053.836

Pendapatan provisi dan komisi

5.455.094 4.556.046

Beban provisi dan komisi

(1.770) (1.365)

Pendapatan provisi dan komisi – bersih –

5.453.324 4.554.681

Pendapatan transaksi perdagangan – bersih

604.736 1.158.948

Pendapatan operasional lainnya

317.773 281.143

JUMLAH PENDAPATAN OPERASIONAL

27.613.956 24.048.708

Beban penyisihan kerugian penurunan nilai aset keuangan

(498.670) (559.209)

Pemulihan estimasi kerugian atas transaksi rekening administratif

719.880

Beban operasional lainnya

Beban karyawan

(6.154.966) (5.204.359)

Beban umum dan administrasi

(6.450.204) (5.468.543)

Lain lain

(254.548) (239.702)
(12.859.718) (10.912.604)

JUMLAH BEBAN OPERASIONAL

(13.358.388) (10.751.933)

Laba operasional bersih

14.255.568 13.296.775

Pendapatan non operasional bersih

430.478 321.983

Laba sebelum pajak penghasilan

14.686.046 13.618.758

Beban pajak penghasilan

Kini

(3.141.702) (2.628.781)

tangguhan

174.116 (172.179)
(2.967.586) (2.800.960)

Laba bersih

11.718.460 10.817.798

PENDAPATAN KOMPREHENSIF LAIN

Selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan dalam valuta asing

21.134 1.296

Keuntungan / kerugian yang belum direalisasi atas aset keuangan yang tersedia untuk dijual :

Sebelum pajak penghasilan

215.544 (64.935)

(beban) pendapatan pajak tangguhan

(53.886) 16.234

Lain lain

(2.729) (184)

Pendapatan komprehensif lain setelah pajak penghasilan

180.063 (47.589)

JUMLAH LABA KOMPREHENSIF

11.898.523 10.770.209

LABA BERSIH YANG DAPAT DIATRIBUSIKAN KEPADA :

Pemilik entitas induk

11.721.717 10.819.309

Kepentingan non – pengendali

(3.257) (1.511)
11.718.460 10.817.798

LABA KOMPREHENSIF YANG DAPAT DIATRIBUSIKAN KEPADA :

Pemilik entitas induk

11.901.780 10.771.720

Kepentingan non – pengendali

(3.257) (1.511)
11.898.523 10.770.209

Laba bersih per saham dasar dan dilusian yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk ( rupiah penuh )

480

444

Laporan Laba-Rugi PT BCA Tbk diatas menyajikan informasi hasil usaha perusahaan yang isinya terdiri dari pendapatan usaha dan beban usaha PT BCA Tbk untuk periode 2011 – 2012.  Dimana laba laba bersih / penghasilan BCA tahun 2011 adalah sebesar 10.817.798 dan pada tahun 2012 meningkat sebesar 900.662  , yaitu menjadi 11.718.460. itu menandakan adanya peningkatan penghasilan yang didapat oleh PT BCA tersebut yang menjadikan citra perusahaan tersebut menjadi lebih baik lagi.

 

PT BANK CENTRAL ASIA Tbk

Laporan Saldo Laba

Untuk tahun yang berakhir 31 Desember

2012

2011

Saldo laba awal tahun

45.534.178

36.581.874

Laba bersih setelah PPh

11.718.460

10.817.798

Dana cadangan

(48.474)

(44.393)

Deviden

(857.070)

(695.412)

Saldo laba akhir tahun

56.347.094

46.659.867

 Penjelasan :

  1. Saldo awal tahun adalah 2012, sedangkan saldo akhir tahun adalah 2011. Saldo tersebut didapat dari penjumlahan antara saldo laba yang telah ditentukan penggunaannya dengan saldo laba yang  belum ditentukan penggunaannya.
  2. Laba bersih setelah pajak penghasilan sesuai dengan laporan laba rugi diatas adalah : Rp 11.718.460
  3. Dana cadangan. UU mengharuskan Perseroan Terbatas menyisihkan jumlah tertentu dari laba bersih untuk cadangan. BCA menyetujui dana cadangan sebesar       dari laba bersih tahun 2011
  4. Deviden adalah bagian dari laba yang dibagikan pada pemegang saham dikarenakan PT.BCA Tbk mengalami keuntungan.
  5. Saldo laba akhir tahun didapat dari penjumlahan saldo laba awal tahun dan laba bersih setelah PPh dikurangi dengan dana cadangan dan deviden.

Untuk mempermudahkan perbandingan dan analisis, maka laporan keuangan diatas akan diringkas dan diolah menjadi basis data sebagai berikut :

BASIS DATA DARI LAPORAN LABA RUGI

 

2012 2011

Penjualan bersih

27.613.956 24.048.708

Laba usaha

14.255.568 13.296.775

Biaya bunga

7.647.167 7.730.157

Rugi/ (untung) kurs

21.134 1.296

Biaya/ (hasil) lain lain

2.729 184

Laba sebelum PPh

14.686.046 13.618.758

Laba bersih setelah PPh

11.718.460 10.817.798

 

Penjelasan :

  1. Laba usaha adalah penjualan dikurangi dengan biaya biaya yang normal seperti harga pokok, biaya pemasaran, administrasi dan umum. Untuk tahun 2012: 27.613.956 – 13.358.388 =  14.255.568  untuk tahun 2011 : 24.048.708 – 10.751.933 = 13.296.775
  2. Biaya bunga didapat dari hasil biaya yang tidak terkait langsung dengan usaha pokok. Yang dilihat disini adalah biaya bunga dari kurs, dimana bunga kurs ini harus sepadan dengan jumlah utangnya, jika terlalu kecil kemungkinan ada subsidinya
  3.  Rugi/ (untung) kurs itu sama saja dengan selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan dalam valas

BASIS DATA DARI NERACA

2012 2011

Total aktiva lancar

381.092.371

320.082.266

Kas

(11.054.208)

(10.355.620)

Aktiva lancar net

370.038.163 309.726.646

Aktiva tetap nilai buku

6.406.625

4.144.659

Aktiva usaha

376.444.788 313.871.305

Total aktifitas lain lain

6.265.653 4.185.031

Total kewajiban lancar

5.839.495 4.043.322

Kewajiban jangka panjang

128.018 449.188

Total kewajiban

5.967.513 4.492.510

Hutang usaha

5.839.495 4.043.322

Piutang usaha

4.487.552

3.498.699

Persediaan

        48.474

          44.393

Posisi valas

Total ekuitas

51.897.942 42.027.340

Jumlah lembar saham

4.396.429 3.895.933

Penilaian harga Saham dilakukan untuk menilai mahal atau murahnya harga suatu saham. Sebagai perbandingannya, selain PT BCA Tbk diberikan pula data dari PT. INDOFOOD SUKSES MAKMUR Tbk ( akan disingkat menjadi ISM )

Penilaian harga Saham Berbasis Laporan Keuangan

Tahun 2012

BCA ISM

Laba usaha

14.255.568 6.870.594

Laba bersih

11.718.460 4.871.745

Total ekuitas

51.897.942 34.142.674

Jumlah saham

4.396.429 8.780.426.500

Harga saham pada tgl 31 mei 2012

7.901 4.850

OPS = Laba Usaha/Jumlah saham

3,242 0,0007

EPS = Laba bersih/Jumlah saham

2,665 0,0005

BVS = Total ekuitas/Jumlah saham

11,804 0,0038

PER = Harga saham/EPS

2964,7 9.700.000

PBV = Harga saham/BVS

669,34 1.276.316

Operating profit per share untuk BCA adalah Rp 3,242/saham sedangkan untuk ISM adalah Rp 0,0007/saham. Earning per share nya BCA adalah Rp 2,665/lembar  sedangkan Earning per share nya ISM adalah Rp 0,0005 /lembar . book value per share untuk BCA adalah Rp 11,804 untuk ISM adalah Rp 0,0038. Price earning ratio untuk BCA adalah 2964,7x dari EPSnya untuk ISM adalah 9.700.000x dari EPSnya. Lalu price to book value untuk BCA adalah 669,34x dari EPSnya untuk ISM adalah 1.276.316 x dari EPSnya

Semakin rendah PER suatu saham maka semakin baik atau murah harganya karena dapat memberikan hasil yang lebih tinggi. Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa PER BCA lebih rendah dari PER ISM, yaitu untuk BCA sebesar 2964,7 dan ISM sebesar 9.700.000 itu artinya saham BCA lebih baik daripada saham ISM.

Sementara itu, suatu saham dengan PBV kecil pada umumnya adalah lebih mahal dibanding dengan saham lain yang PBV nya lebih besar. PBV BCA juga lebih rendah jika dibandingkan dengan ISM yaitu sebesar 669,34 untuk BCA dan 1.276.316 untuk ISM artinya saham BCA lebih mahal dari pada saham ISM.

Kesehatan harga saham

Harga yang murah belum tentu ekonomis dan menjadi pilihan. Tidak semua investor memilih membeli harga saham yang lebih murah. Itu tergantung dengan penilaian serta pertimbangan mereka sendiri. Untuk itu dapat dilihat dari tabel berikut :

Analisis Rasio

                                                                                        2012

Dalam Rp. juta

Penjualan bersih

27.613.956

Laba Usaha

14.255.568

Laba bersih

11.718.460

Aktiva lancar net

370.038.163

Aktiva Usaha

376.444.788

Total kewajiban

5.967.513

Kas & setara

11.054.208

Hutang Usaha

5.839.495

Ekuitas

51.897.942

ANPN : Aktiva Lancar Net/ Penjualan

13,41 %

LUPN  : Laba Usaha/ Penjualan

0,52%

LUAN  : Laba Usaha/ Aktiva Lancar

0,04 %

LUAH  : Laba Usaha/ Aktiva Usaha

0,038%

KWLU : Total Kewajiban/ Laba Usaha

0,5 tahun = 6 bulan

ROE     : Laba Bersih/ Ekuitas

0,23%.

DER     : Kewajiban/ Ekuitas

0,12x

penjelasan  rasio-rasio pada tabel diatas:

  1. ANPN adalah hasil pembagian antara Rasio Aktiva Lancar dengan  Penjualan. Hasil ini menunjukkan tingkat perputaran atau tingkat efisiensi penggunaan Aktiva Lancar. Semakin Kecil Rasionya maka efisiensi penggunaan semakin baik. Jika dilihat pada tabel diatas maka diketahui bahwa ANPN BCA 13,4004038754896 = 13,41 %  artinya  tingkat efisiensi penggunaan aktiva lancar  PT Bank Central Asia Tbk sudah cukup baik.
  2. LUPN adalah hasil bagi antara laba usaha dengan Penjualan. Berdasarkan perhitungan PT Bank Central Asia Tbk, untuk tahun 2012 nilai LUPN-nya adalah 0,516245046526474  atau sama dengan 0,52% . semakin besar persentase semakin baik, artinya daya tahan saham BCA kurang baik
  3. LUAN adalah hasil bagi antara Laba Usaha dengan Aktiva Lancar Net. Untuk BCA sebesar 0,0385245886111482 = 0,04 %. Menunjukkan kemampuan BCA dalam menghasilkan laba masih kurang dan perlu ditingkatkan lagi.
  4. LUAH adalah rasio yang digunakan untuk menilai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba. Kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba sebesar 0,0378689477299922 = 0,038% rasio LUAN yang lebih tinggi dari bunga pinjaman merupakan petunjuk bahwa kemugkinan layak untuk memperbesar usaha bunga pinjaman BCA sebesar 7.647.167. Hasil ini menunjukkan bahwa menambah investasi bagi PT BCA Tbk bukanlah pilihan yang bijaksana.
  5. KWLU perusahaan PT BCA Tbk pada tahun 2012 adalah sebesar 0,418609276038668 = 0,5 tahun. Artinya dalam 6 bulan total kewajiban dapat ditutupi dengan laba usaha. Ini menunjukkan kemampuan PT BCA dalam memenuhi kewajibannya sangat baik karena BCA hanya dalam waktu 6 bulan sudah dapat menutup semua kewajibannya dan kemungkinan pailit menjadi lebih kecil.
  6. ROE adalah laba bersih dibagi dengan ekuitas. Dimana, nilai ROE BCA  tahun 2012 sebesar 0,225798163634311 = 0,23%. ROE sama dengan LUAN dan LUAH yaitu menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba
  7. DER BCA sebesar 0,114985542201269 = 0,12x  DER menunjukkan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban dari ekuitasnya.

Rasio Analisis

2012

1. Liquidity Ratio

Current ratio

1,13568674072002

Quick ratio

0,0164244116842582

Cash flow liquidity ratio

0,0320353302980755

2. Activity ratio

Account receivable turn over

1,9370645911829

Average collection period

0,51624504652674

Inventory turn over

0,257397258642742

Fixed asset turn over

2,06716229533084

Total asset turn over

0,0623348029996881

3.Laverage Ratio (Solvabilitas)

Debt Ratio

0,880524500414618

Debt to equity

7,52636535844684

Long Term Debt

51.954.793

Times interest earned

1,86416329079776

Fixed charge converage

1,88090386936757

4. Rentability (Profitability)

Gross profit margin

0,531834192826265

Operating profit margin

1,21650524044968

Net profit margin

0,424367301809274

5.Beberapa istilah dan ratio lainnya

Arus kas

63.616.402

EPS

3,243/lembar

Earning Yield

0,01

PER (Price Earning Ratio)

2436,3x dariEPSnya

POR (Pay Out Ratio)

264283,1

Deviden Yield

108,476

 

Rasio analisis diatas membantu kita untuk memahami apa yanng perlu dilakukan oleh PT. BCA Tbk sesuai dengan informasi yang tersedia dan juga untuk membuat evaluasi mengenai hasil hasil pengoperasian perusahaan serta memperbaiki kesalahan kesalahan dan menghindari keadaan yang dapat menyebabkan kesulitan keuangan pada PT ini. Analisis rasio juga dapat digunakan untuk membimbing investor dan kreditor untuk membuat keputusan atau pertimbangan tentang pencapaian perusahaan BCA dan prospeknya pada masa yang akan datang.

Pada rasio likuiditas, dimana rasio ini berfungsi untuk mengukur kemampuan PT BCA Tbk dalam menjamin kewajiban-kewajiban lancarnya / kewajian financial jangka pendek yang berupa hutang – hutang jangka pendek . Rasio ini terdiri dari

Rasio kas (cash ratio) Merupakan Rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendek dengan kas yang tersedia dan yang disimpan diBank. Di tahun 2012, cash ratio PT BCA Tbk  sebesar 0,0320353302980755,

 Rasio cepat (quick ratio) Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendeknya dengan menggunakan aktiva yang lebih likuid. Quick ratio PT BCA untuk tahun 2012 sebesar 0,0164244116842582,

Rasio lancar (current ratio) Merupakan Rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendeknya dengan menggunakan aktiva lancar yang dimiliki. Dimana untuk BCA, rasio lancarnya adalah sebesar sebesar 1,13568674072002. Artinya kemampuan PT BCA Tbk untuk membayar hutangnya untuk setiap Rp 1 hutang lancar dijamin oleh Rp 1,13568674072002 aktiva lancar.

Ratio leverage (Solvabilitas) yaitu rasio yang mengukur perbandingan dana yang disediakan oleh pemiliknya dengan dana yang dipinjam dari kreditur perusahaan tersebut. Rasio ini dimaksudkan untuk mengukur sampai seberapa jauh aktiva perusahaan dibiayai oleh hutang rasio ini menunjukkan indikasi tingkat keamanan dari para pemberi pinjaman (Bank).

Total Debt to Equity Ratio (Rasio Hutang terhadap Ekuitas) Merupakan Perbandingan antara hutang – hutang dan ekuitas dalam pendanaan perusahaan dan menunjukkan kemampuan modal sendiri, perusahaan untuk memenuhi seluruh kewajibannya . untuk tahun 2012 PT BCA Tbk sebesar 7,52636535844684. Lalu untuk Total Debt to Total Asset Ratio BCA (Rasio Hutang terhadap Total Aktiva) sebesar 0,880524500414618. Dimana rasio ini merupakan perbandingan antara hutang lancar dan hutang jangka panjang dan jumlah seluruh aktiva diketahui. Rasio ini menunjukkan berapa bagian dari keseluruhan aktiva yang dibelanjai oleh hutang.

Rasio rentabilitas (yang disebut juga sebagai ratio profitabilitas)  adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba atau keuntungan BCA dalam mewujudkan perbandingan antara laba dengan aktiva atau modal yang menghasilkan laba tersebut. Gross Profit Margin ( Margin Laba Kotor) PT BCA Tbk tahun 2012 sebesar  0,531834192826265.  Kondisi ini menggambarkan laba kotor yang dapat dicapai BCA sebesar 0,531834192826265 dari jumlah penjualan. Net Profit Margin (Margin Laba Bersih) Merupakan rasio yang digunaka nuntuk mengukur laba bersih sesudah pajak lalu dibandingkan dengan volume penjualan, untuk BCA sebesar  0,424367301809274

deposito syariah

24 Mei

Salah satu produk penghimpunan dana yang ditawarkan oleh pihak bank syariah kepada nasabah adalah deposito. Deposito ini dapat berguna untuk memenuhi keperluan masyarakat (nasabah) yang mengalami likuiditas, dan juga bisa berfungsi untuk menyimpan dan sekaligus sebagai wahana investasi, karena biasanya produk ini menawarkan financial return

Deposito syariah adalah deposito yang dijalankan berdasarkan prinsip syari’ah sebagaimana yang telah difatwakan oleh Dewan Syari’ah Nasional MUI bahwa deposito yang dibolehkan oleh islam adalah deposito yang berdasarkan prinsip mudharabah yang termaktub dalam fatwa nomor 03/DSN-MUI/IV/2000. Dalam fatwa ini dinyatakan bahwa jika kita mengacu pada praktik deposito yang terdapat pada perbankan konvensional, pelayanan perbankan dalam bentuk deposito tersebut tidak sesuai dengan syariah karena terdapat unsur bunga (riba) di dalamnya. Untuk itu, diperlukan adanya pelayanan deposito yang sesuai dengan syariah dan tidak mengurangi feature yang telah melekat di dalamnya guna memudahkan urusan manusia dalam transaksi keuangan. Berdasarkan hal ini produk deposito yang diperbolehkan DSN berdasarkan syariah adalah deposito yang berdasarkan prinsip mudharabah. Seperti diketahui mudharabah adalah akad kerjasama usaha antara dua pihak dimana pihak pertama selaku pemilik dana (shahibul maal) menyediakan seluruh modal usaha (100%), sedangkan pihak lainnya menjadi pengelola dana (mudharib).

Deposito (deposito berjangka) syariah ini didasarkan pada prinsip akad mudharabah, berhubung tujuan menyimpan dana dalam bentuk simpanan deposito (deposito berjangka) untuk menginvestasikan kelebihan likuiditasnya.

 Jenis – jenis Deposito Syariah :

 

1.    DSR (Deposito Syariah Rakyat)

a.    Liquid, dapat diambil sewaktu-waktu tanpa dikenakan penalty
b.    Dikelola sesuai prinsip syariah
c.    Bagi hasil tiap bulan dpt diambil di ATM Bank manapun yg dituju
d.    Aman dijamin LPS/Pemerintah
e.    Meskipun hasilnya lebih tinggi dari bunga penjaminan
f.     Minimal saldo Rp 50.000.000
h.    Dikenakan pajak 20% (dari bagi hasilnya)

 

2.     Deposito Berjangka

a.    Terdapat jatuh tempo
b.    Dikelola sesuai prinsip syariah
c.    Bagi hasil tiap bulan dpt diambil di ATM Bank manapun yg dituju
d.    Aman dijamin LPS/Pemerintah
e.    Meskipun hasilnya lebih tinggi dari bunga penjaminan
f.     Minimal saldo Rp 200.000.000
g.    Dikenakan pajak 20% dari bagi hasil

 

Dalam perspektif hukum islam, terdapat dua macam jenis mudharabah dikaitkan dengan deposito syariah, yaitu :

 

  1. Mudharabah Muthlaqah

adalah bentuk kerja sama antara shahibul maal dan mudharib yang cakupannya sangat luas dan tidak dibatasi oleh spesifikasi jenis usaha, waktu, dan daerah bisnis. Dalam kontrak teks perbankan syariah, pihak bank memiliki keleluasaan penuh dan kekuasaan yang besar dalam mengelola dana nasabah, tidak terdapat batasan yang spesifik.

  1. Mudharabah Muqayyadah

adalah kebalikan dari mudharabah mutlaqah. Pihak mudharib dibatasi dengan batasan jenis usaha. Adanya pembatasan ini sering kali mencerminkan kecenderungan umum shahibul maal dalam memasuki jenis usaha.

DSN melalui Fatwa Nomor 03/DSN-MUI/IV/2000 menetapkan pula ketentuan umum deposito berdasarkan akad mudharabah tersebut, yaitu:

#  Dalam transaksi ini nasabah bertindak sebagai shahibul maal atau pemilik dana dan bank bertindak sebagai mudharib atau pengelola.

#  Dalam kapasitasnya sebagai mudharib, bank dapat melakukan berbagai macam usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah dan mengembangkannya, termasuk didalamnya mudharabah dengan pihak lain.

#  Modal harus dinyatakan dengan jumlahnya, dalam bentuuk tunai dan bukan piutang.

#  Pembagian keuntungan harus dinyatakan dalam bentuk nisbah dan diuntungkan dalam akad pembukuan rekening.

#  Bank syariah sebagai mudharib menutup biaya operasional deposito dengan menggunakan nisbah keuntungan yang menjadi haknya.

Bank syariah tidak diperkenankan untuk mengurangi nisbah keuntungan nasabah tanpa persetujuan yang bersangkutan.

Apabila dibandingkan dengan deposito yang mengunakan prinsip bunga tetap, jauh berbeda dengan deposito yang mengunakan prinsip tanpa bunga. Kalau dalam sistem bunga, nasabah pemilik deposito akan menerima bunga tertentu secara tetap dan periodik, tanpa mengindahkan usaha yang dilakukan oleh pihak bank syariah, baik merugi atau untung. Dalam deposito mudharabah, besaran retrun yang akan diterima oleh nasabah bergantung pada usaha yang dilakukan oleh pihak bank, yakni nisbah atau presentase tertentu dari total usaha yang dilakukan oleh pihak bank. Pihak bank selaku mudharib tidak memiliki kewajiban secara tetap untuk memberikan return dalam besaran tertentu, tetapi bergantung pada hasil usaha yang dijalankan. Akad ini lebih tepat digunakan karena sesuai dengan karakteristik uasaha yang memiliki potensi untung atau rugi

Prinsip Deposito Syariah

Dalam deposito yang berdasarkan prinsip mudharabah, DSN MUI menentukan beberapa prinsip-prinsip yang harus dipenuhi dalam menjalankan produk ini  :

1. Dalam transaksi ini nasabah bertindak sebagai shahibul maal atau pemilik dana, dan bank bertindak sebagai mudharib atau pengelola dana.

2. Dalam kapasitasnya sebagai mudharib, bank dapat melakukan berbagai macam usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip syari’ah dan mengembangkannya, termasuk di dalamnya mudharabah dengan pihak lain.

3. Modal harus dinyatakan dengan jumlahnya, dalam bentuk tunai dan bukan piutang.

4. Pembagian keuntungan harus dinyatakan dalam bentuk nisbah dan dituangkan dalam akad pembukaan rekening.

5. Bank sebagai mudharib menutup biaya operasional deposito dengan menggunakan nisbah keuntungan yang menjadi haknya.

6. Bank tidak diperkenankan untuk mengurangi nisbah keuntungan nasabah tanpa persetujuan yang bersangkutan.

Tujuan deposito syariah :

1. Bagi Bank; Sumber pendanaan bank baik dalam Rupiah maupun valuta asing dengan jangka waktu tertentu yang lebih lama dan fluktuasi dana yang relatif rendah.

2. Bagi Nasabah; Alternatif investasi yang memberikan keuntungan dalam bentuk bagi hasil

Manfaat deposito syariah :

1.  Membantu perencanaan program investasi

2. Bagi hasil yang kompetitif,yang dapat menambah pokok deposito,di ambil tunai, dipindah bukukan atau di transfer ke bank lain

3.  Dana aman dan terjamin

Strategi-strategi yang dapat dilakukan untuk mengembangkan produk deposito syari’ah :

1. Melakukan kerjasama dengan lembaga keuangan islam internasional maupun kekuatan ekonomi lainnya dalam rangka investasi.

2. Meningkatkan kualitas sumber daya insani (SDI), agar memiliki menjadi insan yang unggul.

3. Melakukan pengembangan pasar dengan membuka jaringan layanan dan kantor cabang yang baru

4. Melakukan pengembangan produk melalui penambahan fitur dan fasilitas produk yang berbasis teknologi

5. Peningkatan pangsa pasar dengan melakukan edukasi pasar, terutama kepada pasar mengambang (floating market). Disamping itu mengoptimalkan jaringan kantor cabang yang ada dengan melakukan pemasaran yang lebih agresif melalui peningkatan promosi dan dukungan terhadap kegiatan kemasyarakatan dan keagamaan.

Produk deposito juga memiliki prospek yang bagus juga karena memiliki beberapa manfaat diantaranya :

1. Dana aman dan terjamin

2. Pengelolaan dana secara syariah

3. Bagi hasil yang kompetitif

4. Dapat dijadikan jaminan pembiayaan

5. Fasilitas automatic roll over (ARO)

Terlepas dari kelebihan kelebihan yang dapat mendorong kemajuan bank syari’ah terdapat kendala-kendala yang dapat menghambat perkembangan perbankan syari’ah dinegara ini diantaranya:

1. Kurangnya pendanaan dalam pengembangan produk-produk perbankan syari’ah

2.  Kurangnya pemahaman masyarakat terhadap deposito syariah.

3. Masih terpengaruh oleh BI.

harga saham harian PT BCA Tbk

24 Mei

DAFTAR HARGA SAHAM HARIAN BANK CENTRAL ASIA.Tbk

Periode 3 Januari 2011 – 30 April 2013

 

Date Open High Low Close Volume Adj Close

1/3/2011

6450

6650

6450

6450

6137500

6288.09

1/4/2011

6500

6650

6500

6500

12124500

6336.83

1/5/2011

6600

6650

6450

6600

18662500

6434.32

1/6/2011

6550

6650

6450

6550

11285000

6385.58

1/7/2011

6400

6500

6300

6400

21645000

6239.34

1/10/2011

5900

6350

5900

5900

41361000

5751.89

1/11/2011

5700

6100

5650

5700

34805500

5556.91

1/12/2011

5800

5900

5750

5800

21697000

5654.4

1/13/2011

5900

6100

5800

5900

26052500

5751.89

1/14/2011

6050

6050

5750

6050

15151000

5898.13

1/17/2011

5950

6000

5800

5950

13943000

5800.64

1/18/2011

5800

5950

5750

5800

19371000

5654.4

1/19/2011

5750

5850

5650

5750

15787500

5605.66

1/20/2011

5700

5750

5600

5700

9739000

5556.91

1/21/2011

5450

5550

5350

5450

40407000

5313.19

1/24/2011

5400

5500

5300

5400

27942000

5264.45

1/25/2011

5600

5700

5400

5600

31939500

5459.43

1/26/2011

5850

5850

5450

5850

25564000

5703.15

1/27/2011

5900

6000

5750

5900

21510500

5751.89

1/28/2011

5800

5850

5650

5800

17758000

5654.4

1/31/2011

5650

5700

5550

5650

22327000

5508.17

2/1/2011

5650

5750

5600

5650

24858500

5508.17

2/2/2011

5850

5850

5750

5850

11542500

5703.15

2/4/2011

6000

6000

5750

6000

10546000

5849.38

2/7/2011

6050

6050

5900

6050

14503500

5898.13

2/8/2011

6000

6050

5900

6000

9543500

5849.38

2/9/2011

5900

6000

5800

5900

10303000

5751.89

2/10/2011

5700

5800

5550

5700

31207500

5556.91

2/11/2011

5950

6000

5650

5950

16494000

5800.64

2/14/2011

6100

6100

5950

6100

10356000

5946.87

2/16/2011

6050

6100

5950

6050

14978500

5898.13

2/17/2011

6000

6100

5950

6000

12144500

5849.38

2/18/2011

6150

6200

6050

6150

22812000

5995.62

2/21/2011

6250

6250

6150

6250

7874000

6093.11

2/22/2011

6250

6350

6150

6250

19579500

6093.11

2/23/2011

6400

6450

6200

6400

16940000

6239.34

2/24/2011

6250

6350

6150

6250

15949000

6093.11

2/25/2011

6100

6250

6050

6100

7280500

5946.87

2/28/2011

6300

6300

6100

6300

18657000

6141.85

3/1/2011

6450

6500

6300

6450

14480500

6288.09

3/2/2011

6500

6550

6350

6500

15119500

6336.83

3/3/2011

6650

6750

6500

6650

25531500

6483.07

3/4/2011

6800

6850

6700

6800

16301500

6629.3

3/7/2011

6900

6950

6800

6900

12613000

6726.79

3/8/2011

6850

7000

6800

6850

10742000

6678.05

3/9/2011

6850

7000

6850

6850

17919500

6678.05

3/10/2011

6900

6900

6800

6900

4350500

6726.79

3/11/2011

6800

6800

6600

6800

16446500

6629.3

3/14/2011

6800

6800

6650

6800

6850000

6629.3

3/15/2011

6650

6700

6550

6650

15846500

6483.07

3/16/2011

6700

6700

6550

6700

14250000

6531.81

3/17/2011

6550

6650

6500

6550

9008000

6385.58

3/18/2011

6550

6650

6550

6550

9428000

6385.58

3/21/2011

6700

6700

6550

6700

3618500

6531.81

3/22/2011

6750

6750

6650

6750

7397500

6580.56

3/24/2011

6850

6900

6650

6850

15215500

6678.05

3/25/2011

6900

6950

6850

6900

16864500

6726.79

3/28/2011

6950

6950

6800

6950

2487000

6775.54

3/29/2011

6950

7000

6850

6950

7054500

6775.54

3/30/2011

6850

6950

6800

6850

6632500

6678.05

3/31/2011

6950

7000

6850

6950

13588500

6775.54

4/1/2011

7100

7100

6950

7100

22678500

6921.77

4/4/2011

7000

7150

6900

7000

6428500

6824.28

4/5/2011

7000

7000

6900

7000

5189000

6824.28

4/6/2011

6950

7000

6800

6950

12143500

6775.54

4/7/2011

7050

7050

6950

7050

12833500

6873.03

4/8/2011

7000

7150

7000

7000

13937500

6824.28

4/11/2011

7100

7200

7000

7100

15309000

6921.77

4/12/2011

7050

7100

6950

7050

4858500

6873.03

4/13/2011

7150

7150

7000

7150

7267500

6970.52

4/14/2011

7150

7200

7050

7150

7267000

6970.52

4/15/2011

7300

7300

7100

7300

10763500

7116.75

4/18/2011

7400

7450

7250

7400

11224500

7214.24

4/19/2011

7450

7450

7250

7450

6810000

7262.99

4/20/2011

7550

7550

7350

7550

10678500

7360.47

4/21/2011

7500

7700

7450

7500

6260500

7311.73

4/25/2011

7500

7650

7500

7500

740500

7311.73

4/26/2011

7550

7600

7350

7550

5221000

7360.47

4/27/2011

7500

7600

7450

7500

3047000

7311.73

4/28/2011

7600

7600

7500

7600

5188500

7409.22

4/29/2011

7400

7600

7350

7400

8012500

7214.24

5/2/2011

7500

7500

7400

7500

2304000

7311.73

5/3/2011

7250

7500

7250

7250

5879500

7068.01

5/4/2011

7350

7350

7100

7350

13244000

7165.5

5/5/2011

7150

7250

7150

7150

9797500

6970.52

5/6/2011

7300

7300

7050

7300

7933000

7116.75

5/9/2011

7200

7300

7200

7200

3572000

7019.26

5/10/2011

7300

7350

7200

7300

1665500

7116.75

5/11/2011

7350

7350

7200

7350

6479000

7165.5

5/12/2011

7200

7300

7200

7200

4278500

7019.26

5/13/2011

7300

7350

7150

7300

11298000

7116.75

5/16/2011

7100

7200

7050

7100

12334000

6921.77

5/18/2011

7150

7300

7100

7150

18726000

6970.52

5/19/2011

7250

7400

7200

7250

9080500

7068.01

5/20/2011

7300

7400

7200

7300

10123500

7116.75

5/23/2011

7150

7250

7050

7150

11594500

6970.52

5/24/2011

7050

7150

7000

7050

13121000

6873.03

5/25/2011

7100

7100

7000

7100

7692500

6921.77

5/26/2011

7250

7250

7050

7250

9001000

7068.01

5/27/2011

7150

7200

7100

7150

6844500

6970.52

5/30/2011

7100

7200

7050

7100

7059500

6921.77

5/31/2011

7100

7200

7050

7100

11756000

6921.77

6/1/2011

7100

7250

7100

7100

11580500

6921.77

6/3/2011

7150

7200

7050

7150

8884500

6970.52

6/6/2011

7150

7200

7100

7150

1776000

6970.52

6/7/2011

7100

7100

7000

7100

4451000

6979.86

6/8/2011

7000

7100

7000

7000

8561500

6881.55

6/9/2011

7000

7100

7000

7000

4818000

6881.55

6/10/2011

7000

7100

7000

7000

5788000

6881.55

6/13/2011

7000

7100

7000

7000

3945000

6881.55

6/14/2011

7000

7100

7000

7000

4071000

6881.55

6/15/2011

7150

7200

7000

7150

11397500

7029.01

6/16/2011

7100

7200

7050

7100

15939000

6979.86

6/17/2011

7200

7250

7150

7200

18631000

7078.16

6/20/2011

7250

7300

7200

7250

9347000

7127.32

6/21/2011

7200

7350

7200

7200

10301500

7078.16

6/22/2011

7300

7300

7150

7300

15876500

7176.47

6/23/2011

7400

7400

7250

7400

10342500

7274.78

6/24/2011

7450

7500

7350

7450

14550500

7323.93

6/27/2011

7450

7500

7350

7450

7131500

7323.93

6/28/2011

7450

7550

7350

7450

5788000

7323.93

6/30/2011

7650

7700

7450

7650

26567500

7520.55

7/1/2011

7800

7900

7650

7800

13508500

7668.01

7/5/2011

7850

7900

7750

7850

12293500

7717.16

7/6/2011

7800

7800

7550

7800

9745000

7668.01

7/7/2011

7800

7950

7700

7800

9977000

7668.01

7/8/2011

8050

8200

7850

8050

23332500

7913.78

7/11/2011

8050

8050

7900

8050

6678500

7913.78

7/12/2011

7950

8100

7950

7950

10162000

7815.47

7/13/2011

7950

8050

7900

7950

7546500

7815.47

7/14/2011

8000

8050

7850

8000

8904000

7864.63

7/15/2011

8300

8300

8000

8300

12540000

8159.55

7/18/2011

8150

8350

8150

8150

4176000

8012.09

7/19/2011

8000

8150

7850

8000

11335000

7864.63

7/20/2011

8000

8100

7900

8000

6615500

7864.63

7/21/2011

8100

8150

7900

8100

6382500

7962.93

7/22/2011

8250

8250

8150

8250

9348000

8110.39

7/25/2011

8150

8200

8050

8150

8925500

8012.09

7/26/2011

8300

8300

8100

8300

8702000

8159.55

7/27/2011

8350

8500

8200

8350

13051000

8208.7

7/28/2011

8200

8250

8100

8200

6988000

8061.24

7/29/2011

8300

8300

8050

8300

10005000

8159.55

8/1/2011

8550

8550

8250

8550

12345000

8405.32

8/2/2011

8750

8750

8500

8750

7843500

8601.93

8/3/2011

8700

8850

8650

8700

8682500

8552.78

8/4/2011

8600

8750

8400

8600

7277500

8454.47

8/5/2011

8300

8450

8000

8300

42635500

8159.55

8/8/2011

8050

8100

7550

8050

51172500

7913.78

8/9/2011

7850

8000

7250

7850

78736500

7717.16

8/10/2011

8000

8100

7850

8000

30000000

7864.63

8/11/2011

7850

7950

7750

7850

19235500

7717.16

8/12/2011

7950

8000

7850

7950

16040500

7815.47

8/15/2011

8150

8150

7950

8150

10230500

8012.09

8/16/2011

8150

8250

8050

8150

14848500

8012.09

8/18/2011

8200

8250

7950

8200

17822000

8061.24

8/19/2011

8000

8000

7750

8000

30131500

7864.63

8/22/2011

7750

8000

7700

7750

15886500

7618.86

8/23/2011

7950

7950

7750

7950

12260000

7815.47

8/24/2011

7900

8000

7800

7900

14545000

7766.32

8/25/2011

8000

8050

7900

8000

10794500

7864.63

8/26/2011

8000

8050

7800

8000

16897500

7864.63

9/5/2011

8150

8300

8050

8150

27110500

8012.09

9/6/2011

8200

8300

8050

8200

13461000

8061.24

9/7/2011

8350

8350

8200

8350

9289000

8208.7

9/8/2011

8400

8450

8200

8400

11131500

8257.86

9/9/2011

8350

8500

8300

8350

9836000

8208.7

9/12/2011

8050

8300

8050

8050

7152500

7913.78

9/13/2011

8100

8200

7950

8100

5283000

7962.93

9/14/2011

7750

8150

7750

7750

22641500

7618.86

9/15/2011

7900

7900

7500

7900

26231000

7766.32

9/16/2011

7900

8050

7750

7900

14483500

7766.32

9/19/2011

7850

7950

7750

7850

3096500

7717.16

9/20/2011

7950

7950

7650

7950

15130500

7815.47

9/21/2011

7750

8000

7750

7750

11301000

7618.86

9/22/2011

7100

7550

7050

7100

21362000

6979.86

9/23/2011

7500

7500

6950

7500

15408000

7373.09

9/26/2011

7350

7500

7100

7350

17743000

7225.62

9/27/2011

7500

7650

7450

7500

27236000

7373.09

9/28/2011

7550

7600

7450

7550

12091000

7422.24

9/29/2011

7650

7650

7500

7650

13752000

7520.55

9/30/2011

7700

7800

7450

7700

18780000

7569.7

10/3/2011

7350

7500

7200

7350

9753000

7225.62

10/4/2011

7200

7300

7050

7200

13952500

7078.16

10/5/2011

7300

7350

7200

7300

6923000

7176.47

10/6/2011

7500

7550

7400

7500

19542500

7373.09

10/7/2011

7450

7750

7450

7450

12370500

7323.93

10/10/2011

7500

7550

7300

7500

7789000

7373.09

10/11/2011

7750

7900

7600

7750

16564000

7618.86

10/12/2011

7950

8050

7750

7950

11089500

7815.47

10/13/2011

8000

8150

7950

8000

9637000

7864.63

10/14/2011

7950

8050

7950

7950

7694000

7815.47

10/17/2011

8050

8100

7950

8050

4140000

7913.78

10/18/2011

7750

7950

7650

7750

12406500

7618.86

10/19/2011

7850

7900

7800

7850

8791000

7717.16

10/20/2011

7650

7800

7500

7650

24603000

7520.55

10/21/2011

7650

7800

7550

7650

17733000

7520.55

10/24/2011

7950

8000

7800

7950

7976000

7815.47

10/25/2011

8000

8100

7850

8000

12169000

7864.63

10/26/2011

8000

8000

7950

8000

3497000

7864.63

10/27/2011

7950

8100

7900

7950

18826500

7815.47

10/28/2011

8000

8050

7900

8000

16338500

7864.63

10/31/2011

8100

8100

7850

8100

9303500

7962.93

11/1/2011

7900

8050

7850

7900

8128000

7766.32

11/2/2011

7950

8000

7700

7950

14527500

7815.47

11/3/2011

7800

7900

7700

7800

9203000

7668.01

11/4/2011

8000

8050

7900

8000

16384500

7864.63

11/7/2011

7950

8000

7950

7950

3842500

7815.47

11/8/2011

8200

8200

7950

8200

12537000

8061.24

11/9/2011

8300

8400

8200

8300

20206000

8159.55

11/10/2011

8150

8200

7950

8150

21294000

8012.09

11/11/2011

8150

8250

8000

8150

11886000

8012.09

11/14/2011

8250

8250

8150

8250

7189000

8110.39

11/15/2011

8150

8200

8050

8150

11801500

8012.09

11/16/2011

8050

8200

8000

8050

11533000

7913.78

11/17/2011

8050

8150

7950

8050

14202000

7913.78

11/18/2011

7850

7950

7800

7850

27183000

7717.16

11/21/2011

7750

7850

7700

7750

17389500

7618.86

11/22/2011

7800

7850

7750

7800

17957000

7668.01

11/23/2011

7700

7750

7650

7700

9205000

7569.7

11/24/2011

7650

7750

7650

7650

8834000

7520.55

11/25/2011

7450

7650

7450

7450

11779500

7323.93

11/28/2011

7550

7600

7450

7550

14234000

7422.24

11/29/2011

7700

7850

7550

7700

18373000

7569.7

11/30/2011

7900

7950

7700

7900

20192000

7766.32

12/1/2011

7900

7900

7900

7900

0

7766.32

12/2/2011

8000

8000

7900

8000

5014000

7864.63

12/5/2011

8050

8050

7950

8050

6528000

7913.78

12/6/2011

7900

8000

7900

7900

4597000

7766.32

12/7/2011

8050

8050

7900

8050

5100500

7950.99

12/8/2011

7950

8050

7900

7950

9286000

7852.22

12/9/2011

7900

8000

7800

7900

6792500

7802.84

12/12/2011

8000

8050

7950

8000

5368500

7901.61

12/13/2011

7850

7950

7800

7850

10861500

7753.45

12/14/2011

7900

8000

7850

7900

6644000

7802.84

12/15/2011

7800

7850

7700

7800

11592500

7704.07

12/16/2011

8000

8250

7850

8000

23844000

7901.61

12/19/2011

8000

8000

8000

8000

0

7901.61

12/20/2011

7900

8050

7900

7900

4302000

7802.84

12/21/2011

7950

8050

7900

7950

13743500

7852.22

12/22/2011

7950

8050

7950

7950

3384000

7852.22

12/23/2011

8050

8050

7950

8050

4041500

7950.99

12/26/2011

8050

8050

8050

8050

0

7950.99

12/27/2011

8000

8050

7900

8000

4277500

7901.61

12/28/2011

7950

8050

7850

7950

5690000

7852.22

12/29/2011

8050

8050

7850

8050

3689500

7950.99

12/30/2011

8000

8050

7950

8000

4847500

7901.61

1/2/2012

8000

8000

7950

8000

1574000

7901.61

1/3/2012

8100

8100

7950

8100

5555000

8000.38

1/4/2012

8100

8150

8000

8100

17449000

8000.38

1/5/2012

8050

8150

8050

8050

11439500

7950.99

1/6/2012

8000

8050

7950

8000

5438000

7901.61

1/9/2012

8150

8150

7900

8150

9302000

8049.76

1/10/2012

8150

8200

8100

8150

9975000

8049.76

1/11/2012

8100

8250

8050

8100

14614000

8000.38

1/12/2012

8150

8200

8050

8150

12628500

8049.76

1/13/2012

8150

8150

8150

8150

0

8049.76

1/16/2012

7950

8100

7900

7950

3269000

7852.22

1/17/2012

7950

8000

7900

7950

16671500

7852.22

1/18/2012

7950

8000

7900

7950

10798000

7852.22

1/19/2012

8000

8100

7950

8000

17004000

7901.61

1/20/2012

8000

8050

7950

8000

9239500

7901.61

1/23/2012

8000

8000

8000

8000

0

7901.61

1/24/2012

8100

8100

7950

8100

7632000

8000.38

1/25/2012

8050

8100

8000

8050

5330500

7950.99

1/26/2012

8150

8150

8000

8150

8756500

8049.76

1/27/2012

8100

8150

8050

8100

6623500

8000.38

1/30/2012

7950

8100

7850

7950

6454500

7852.22

1/31/2012

8000

8000

7850

8000

15663000

7901.61

2/1/2012

8000

8050

7950

8000

5550500

7901.61

2/2/2012

8100

8250

7950

8100

25005500

8000.38

2/3/2012

8050

8150

8050

8050

10181000

7950.99

2/6/2012

8050

8100

8000

8050

10108500

7950.99

2/7/2012

7900

8050

7850

7900

11680000

7802.84

2/8/2012

7900

7900

7800

7900

18274500

7802.84

2/9/2012

7900

7950

7850

7900

11738000

7802.84

2/10/2012

7550

7900

7450

7550

35146500

7457.14

2/13/2012

7600

7600

7500

7600

23805000

7506.53

2/14/2012

7400

7600

7350

7400

27021000

7308.99

2/15/2012

7300

7500

7200

7300

51811000

7210.22

2/16/2012

7350

7350

7200

7350

38492000

7259.6

2/17/2012

7450

7450

7300

7450

25113000

7358.37

2/20/2012

7450

7500

7350

7450

32812000

7358.37

2/21/2012

7550

7550

7400

7550

38943000

7457.14

2/22/2012

7550

7550

7450

7550

14035500

7457.14

2/23/2012

7500

7550

7400

7500

13307500

7407.76

2/24/2012

7450

7450

7300

7450

17066500

7358.37

2/27/2012

7400

7500

7250

7400

11855500

7308.99

2/28/2012

7450

7500

7350

7450

8823500

7358.37

2/29/2012

7600

7650

7500

7600

19594500

7506.53

3/1/2012

7650

7700

7500

7650

5621000

7555.91

3/2/2012

7750

7750

7600

7750

11816000

7654.68

3/5/2012

7700

7700

7600

7700

4707000

7605.3

3/6/2012

7700

7700

7550

7700

9010000

7605.3

3/7/2012

7500

7700

7500

7500

11515500

7407.76

3/8/2012

7550

7600

7450

7550

6826000

7457.14

3/9/2012

7550

7600

7450

7550

10980500

7457.14

3/12/2012

7700

7700

7600

7700

11104000

7605.3

3/13/2012

7650

7750

7650

7650

5948500

7555.91

3/14/2012

7850

7850

7700

7850

14331000

7753.45

3/15/2012

7800

7900

7750

7800

9880500

7704.07

3/16/2012

7900

7950

7800

7900

13323000

7802.84

3/19/2012

7950

8000

7900

7950

7092500

7852.22

3/20/2012

8000

8000

7900

8000

8313000

7901.61

3/21/2012

7900

7950

7850

7900

7075500

7802.84

3/22/2012

7950

7950

7850

7950

3625500

7852.22

3/23/2012

7950

7950

7950

7950

0

7852.22

3/26/2012

8000

8100

7950

8000

11596500

7901.61

3/27/2012

8100

8100

8000

8100

12104500

8000.38

3/28/2012

8100

8150

8050

8100

7437000

8000.38

3/29/2012

8050

8050

8000

8050

7746000

7950.99

3/30/2012

8000

8100

8000

8000

16145000

7901.61

4/2/2012

8050

8100

8000

8050

9510000

7950.99

4/3/2012

8050

8050

8050

8050

0

7950.99

4/4/2012

7750

8100

7750

7750

11234500

7654.68

4/5/2012

7950

8050

7750

7950

10408000

7852.22

4/6/2012

7950

7950

7950

7950

0

7852.22

4/9/2012

7950

8000

7900

7950

2867500

7852.22

4/10/2012

7900

7950

7850

7900

3998500

7802.84

4/11/2012

7900

7950

7850

7900

8251000

7802.84

4/12/2012

8000

8000

7850

8000

12321500

7901.61

4/13/2012

7950

8050

7950

7950

4330500

7852.22

4/16/2012

7850

8000

7850

7850

4557500

7753.45

4/17/2012

7900

8000

7850

7900

11203000

7802.84

4/18/2012

7900

7950

7900

7900

3099000

7802.84

4/19/2012

7950

7950

7850

7950

2664000

7852.22

4/20/2012

8000

8000

7900

8000

6713500

7901.61

4/23/2012

8000

8000

7950

8000

4928000

7901.61

4/24/2012

8000

8000

7900

8000

6443500

7901.61

4/25/2012

7950

8000

7850

7950

15956500

7852.22

4/26/2012

8000

8250

7950

8000

25893500

7901.61

4/27/2012

7850

8050

7850

7850

8335500

7753.45

4/30/2012

8000

8000

7850

8000

5665000

7901.61

5/1/2012

8000

8000

7950

8000

2230500

7901.61

5/2/2012

8000

8050

7950

8000

15888500

7901.61

5/3/2012

8050

8100

8000

8050

9770000

7950.99

5/4/2012

8050

8050

7950

8050

5291500

7950.99

5/7/2012

8000

8050

7900

8000

9996500

7901.61

5/8/2012

8000

8050

7950

8000

6492000

7901.61

5/9/2012

8000

8050

7950

8000

5834500

7901.61

5/10/2012

8000

8050

7950

8000

10660000

7901.61

5/11/2012

8000

8050

7950

8000

5304500

7901.61

5/14/2012

7750

8000

7750

7750

4795000

7654.68

5/15/2012

7800

7850

7700

7800

12728000

7704.07

5/16/2012

7550

7750

7400

7550

21774000

7457.14

5/17/2012

7550

7550

7550

7550

0

7457.14

5/18/2012

7550

7550

7550

7550

0

7457.14

5/21/2012

7300

7500

7250

7300

46718000

7210.22

5/22/2012

7450

7500

7300

7450

30770500

7358.37

5/23/2012

7450

7500

7300

7450

20534500

7358.37

5/24/2012

7450

7500

7350

7450

11525500

7358.37

5/25/2012

7250

7400

7200

7250

31870000

7160.83

5/28/2012

7250

7300

7050

7250

11470000

7160.83

5/29/2012

7250

7300

7200

7250

7609500

7160.83

5/30/2012

7300

7400

7200

7300

11722000

7210.22

5/31/2012

7000

7300

7000

7000

27941000

6913.91

6/1/2012

7100

7150

7000

7100

8032000

7012.68

6/4/2012

6900

6950

6750

6900

15322500

6815.14

6/5/2012

7050

7150

6950

7050

12690000

6963.29

6/6/2012

7200

7250

7050

7200

25514000

7111.45

6/7/2012

7200

7400

7150

7200

17759500

7111.45

6/8/2012

7050

7200

6950

7050

9970000

6963.29

6/11/2012

7200

7200

7050

7200

12408000

7171.98

6/12/2012

7150

7200

7050

7150

13590000

7122.17

6/13/2012

7150

7250

7150

7150

11145500

7122.17

6/14/2012

7150

7250

7100

7150

9485500

7122.17

6/15/2012

7100

7250

7100

7100

11313000

7072.37

6/18/2012

7300

7400

7250

7300

13041500

7271.59

6/19/2012

7450

7450

7200

7450

8354500

7421

6/20/2012

7500

7500

7350

7500

6621500

7470.81

6/21/2012

7350

7500

7250

7350

10613000

7321.39

6/22/2012

7250

7300

7150

7250

7827500

7221.78

6/25/2012

7250

7300

7200

7250

5676500

7221.78

6/26/2012

7250

7400

7200

7350

9568000

7321.39

6/27/2012

7350

7500

7300

7450

16842500

7421

6/28/2012

7450

7500

7300

7300

9758000

7271.59

6/29/2012

7300

7500

7300

7300

13346000

7271.59

7/2/2012

7350

7350

7250

7350

11693000

7321.39

7/3/2012

7500

7500

7350

7500

10689500

7470.81

7/4/2012

7450

7500

7350

7450

15043000

7421

7/5/2012

7400

7500

7350

7400

7458500

7371.2

7/6/2012

7400

7450

7350

7400

4854000

7371.2

7/9/2012

7300

7400

7250

7300

8238500

7271.59

7/10/2012

7350

7400

7300

7350

5481000

7321.39

7/11/2012

7350

7400

7300

7350

10378000

7321.39

7/12/2012

7450

7450

7300

7450

27589000

7421

7/13/2012

7450

7500

7400

7450

11401000

7421

7/16/2012

7600

7650

7450

7600

26142000

7570.42

7/17/2012

7750

7750

7600

7750

14290500

7719.84

7/18/2012

7750

7900

7700

7750

15394000

7719.84

7/19/2012

7800

7850

7700

7800

12865500

7769.64

7/20/2012

7850

7850

7700

7850

11250000

7819.45

7/23/2012

7750

7800

7700

7750

9965000

7719.84

7/24/2012

7650

7750

7600

7650

8163000

7620.23

7/25/2012

7550

7650

7550

7550

2721500

7520.61

7/26/2012

7700

7700

7500

7700

7751000

7670.03

7/27/2012

8000

8000

7750

8000

24932500

7968.86

7/30/2012

7950

8000

7850

7950

17655000

7919.06

7/31/2012

8000

8050

7900

8000

29942000

7968.86

8/1/2012

7950

8000

7900

7950

12689000

7919.06

8/2/2012

7850

8000

7850

7850

14528000

7819.45

8/3/2012

7700

7900

7700

7700

15190000

7670.03

8/6/2012

7700

7900

7650

7700

22917000

7670.03

8/7/2012

7800

7850

7650

7800

11612000

7769.64

8/8/2012

7850

7900

7800

7850

12981500

7819.45

8/9/2012

8000

8050

7850

8000

14511000

7968.86

8/10/2012

7950

8050

7950

7950

8935000

7919.06

8/13/2012

7900

8050

7900

7900

10752000

7869.25

8/14/2012

7900

7950

7850

7900

5946000

7869.25

8/15/2012

7950

7950

7900

7950

8610000

7919.06

8/16/2012

8050

8050

7900

8050

11306500

8018.67

8/17/2012

8050

8050

8050

8050

0

8018.67

8/20/2012

8050

8050

8050

8050

0

8018.67

8/21/2012

8050

8050

8050

8050

0

8018.67

8/22/2012

8050

8050

8050

8050

0

8018.67

8/23/2012

7900

8050

7900

7900

14937000

7869.25

8/24/2012

7800

7950

7750

7800

13718500

7769.64

8/27/2012

7900

7900

7750

7900

645500

7869.25

8/28/2012

7900

7950

7850

7900

3932000

7869.25

8/29/2012

7750

7900

7750

7750

15203500

7719.84

8/30/2012

7800

7850

7700

7800

7056500

7769.64

8/31/2012

7750

7850

7700

7750

18858500

7719.84

9/3/2012

7950

8000

7750

7950

15823500

7919.06

9/4/2012

7900

8050

7900

7900

16809000

7869.25

9/5/2012

7850

8000

7850

7850

13189000

7819.45

9/6/2012

7950

8000

7900

7950

6763500

7919.06

9/7/2012

8050

8050

8000

8050

16766500

8018.67

9/10/2012

7950

8100

7950

7950

6745000

7919.06

9/11/2012

8050

8050

7900

8050

8049000

8018.67

9/12/2012

8000

8050

7950

8000

9453000

7968.86

9/13/2012

7900

8050

7900

7900

10526500

7869.25

9/14/2012

8050

8150

8000

8050

19752500

8018.67

9/17/2012

8000

8100

7950

8000

10537000

7968.86

9/18/2012

7900

8000

7800

7900

10977500

7869.25

9/19/2012

7850

8000

7850

7850

7469500

7819.45

9/20/2012

8000

8000

7850

8000

7764000

7968.86

9/21/2012

7950

8000

7850

7950

12874500

7919.06

9/24/2012

7900

7950

7850

7900

8853500

7869.25

9/25/2012

7850

7950

7850

7850

3426000

7819.45

9/26/2012

7800

7900

7800

7800

5986500

7769.64

9/27/2012

7900

7950

7800

7900

8377000

7869.25

9/28/2012

7900

7950

7850

7900

12295500

7869.25

10/1/2012

7850

7950

7800

7850

10423000

7819.45

10/2/2012

7900

7950

7850

7900

2974000

7869.25

10/3/2012

7850

7950

7850

7850

5858000

7819.45

10/4/2012

7900

7950

7850

7900

9281000

7869.25

10/5/2012

7850

7950

7850

7850

14860000

7819.45

10/8/2012

7900

7950

7850

7900

6695000

7869.25

10/9/2012

7950

7950

7850

7950

13141500

7919.06

10/10/2012

7950

8000

7900

7950

10010000

7919.06

10/11/2012

8000

8000

7900

8000

5777000

7968.86

10/12/2012

8150

8150

8000

8150

25881500

8118.28

10/15/2012

8050

8100

8050

8050

7459000

8018.67

10/16/2012

8150

8150

8000

8150

12903000

8118.28

10/17/2012

8150

8200

8100

8150

14453500

8118.28

10/18/2012

8200

8200

8100

8200

6828000

8168.08

10/19/2012

8150

8200

8150

8150

7425500

8118.28

10/22/2012

8100

8200

8000

8100

4409500

8068.47

10/23/2012

8200

8250

8100

8200

9914000

8168.08

10/24/2012

8200

8200

8100

8200

6554000

8168.08

10/25/2012

8150

8200

8100

8150

11598000

8118.28

10/26/2012

8150

8150

8150

8150

0

8118.28

10/29/2012

8100

8150

8050

8100

7869500

8068.47

10/30/2012

8200

8250

8050

8200

19869500

8168.08

10/31/2012

8200

8250

8100

8200

8113000

8168.08

11/1/2012

8300

8300

8150

8300

11848500

8267.7

11/2/2012

8350

8350

8200

8350

8758000

8317.5

11/5/2012

8250

8350

8250

8250

8149000

8217.89

11/6/2012

8500

8500

8300

8500

13098000

8466.92

11/7/2012

8500

8550

8400

8500

9424000

8466.92

11/8/2012

8450

8500

8400

8450

9029500

8417.11

11/9/2012

8550

8550

8400

8550

12862500

8516.72

11/12/2012

8700

8750

8500

8700

11573000

8666.14

11/13/2012

9000

9000

8750

9000

7268500

8964.97

11/14/2012

9050

9350

8950

9050

15811500

9014.78

11/15/2012

9050

9050

9050

9050

0

9014.78

11/19/2012

8600

9050

8600

8600

11312000

8566.53

11/20/2012

8850

8850

8650

8850

6062000

8815.55

11/21/2012

8850

8900

8750

8850

4453500

8815.55

11/22/2012

8900

8950

8800

8900

5516500

8865.36

11/23/2012

9050

9050

8900

9050

4650000

9014.78

11/26/2012

9100

9200

9000

9100

3433000

9064.58

11/27/2012

8950

9400

8950

8950

13453500

8915.17

11/28/2012

8950

9000

8800

8950

7666500

8915.17

11/29/2012

9000

9100

8850

9000

9409500

8964.97

11/30/2012

8800

9100

8800

8800

12958000

8765.75

12/3/2012

9500

9500

8750

9500

8854000

9463.02

12/4/2012

8750

9150

8750

8750

16304500

8750

12/5/2012

8800

9050

8750

8800

12389000

8800

12/6/2012

8800

9000

8800

8800

11894500

8800

12/7/2012

8800

9000

8800

8800

12000500

8800

12/10/2012

9150

9300

8900

9150

15882000

9150

12/11/2012

9250

9350

9150

9250

11783000

9250

12/12/2012

9450

9450

9200

9450

10259500

9450

12/13/2012

9450

9500

9350

9450

9571500

9450

12/14/2012

9250

9500

9150

9250

6391500

9250

12/17/2012

9200

9300

9050

9200

9498500

9200

12/18/2012

9150

9350

9050

9150

9939500

9150

12/19/2012

9050

9250

9000

9050

11117500

9050

12/20/2012

9200

9200

8900

9200

12844000

9200

12/21/2012

8900

9400

8800

8900

15174500

8900

12/24/2012

8900

8900

8900

8900

0

8900

12/25/2012

8900

8900

8900

8900

0

8900

12/26/2012

9200

9200

8900

9200

5124500

9200

12/27/2012

9200

9300

9100

9200

5083000

9200

12/28/2012

9200

9200

9200

9200

0

9200

12/31/2012

9200

9200

9200

9200

0

9200

1/1/2013

9200

9200

9200

9200

0

9200

1/2/2013

9100

9250

9000

9100

3454500

9100

1/3/2013

9150

9250

9050

9150

8406000

9150

1/4/2013

9150

9150

9150

9150

0

9150

1/7/2013

9200

9250

9050

9200

15407000

9200

1/8/2013

9150

9250

9100

9150

11588000

9150

1/9/2013

9100

9200

9000

9100

10665500

9100

1/10/2013

8900

9100

8900

8900

14465500

8900

1/11/2013

8850

9000

8850

8850

12242000

8850

1/14/2013

9100

9100

8900

9100

11405000

9100

1/15/2013

9150

9150

9050

9150

11686500

9150

1/16/2013

9150

9150

9050

9150

12333000

9150

1/17/2013

9150

9200

9050

9150

11527500

9150

1/18/2013

9500

9500

9100

9500

13743000

9500

1/21/2013

9300

9500

9300

9300

8468000

9300

1/22/2013

9300

9300

9100

9300

11661000

9300

1/23/2013

9300

9300

9150

9300

8537000

9300

1/24/2013

9300

9300

9300

9300

0

9300

1/25/2013

9350

9400

9250

9350

11089000

9350

1/28/2013

9300

9350

9200

9300

10283500

9300

1/29/2013

9450

9500

9300

9450

8790000

9450

1/30/2013

9450

9550

9350

9450

13222500

9450

1/31/2013

9650

9750

9500

9650

23533500

9650

2/1/2013

9850

10050

9650

9850

17273000

9850

2/4/2013

10050

10100

9950

10050

18908000

10050

2/5/2013

9900

10200

9900

9900

18568000

9900

2/6/2013

9900

10000

9800

9900

12641000

9900

2/7/2013

10050

10050

9900

10050

12675000

10050

2/8/2013

9950

10100

9900

9950

7954000

9950

2/11/2013

10150

10150

9950

10150

2294500

10150

2/12/2013

10050

10150

9950

10050

5157000

10050

2/13/2013

9850

10050

9800

9850

11002500

9850

2/14/2013

10000

10000

9950

10000

14939500

10000

2/15/2013

10050

10100

9950

10050

7963000

10050

2/18/2013

10200

10250

10050

10200

11638500

10200

2/19/2013

10250

10250

10100

10250

6688500

10250

2/20/2013

10300

10350

10200

10300

12034500

10300

2/21/2013

10350

10400

10150

10350

8242000

10350

2/22/2013

10350

10350

10350

10350

0

10350

2/25/2013

11300

11300

10600

11300

10291500

11300

2/26/2013

10800

11000

10450

10800

10490000

10800

2/27/2013

10650

10850

10550

10650

13966000

10650

2/28/2013

11000

11000

10700

11000

12837000

11000

3/1/2013

10700

10900

10650

10700

10069500

10700

3/4/2013

10700

10700

10700

10700

0

10700

3/5/2013

10500

10850

10500

10500

10626500

10500

3/6/2013

10700

10800

10550

10700

9222000

10700

3/7/2013

10750

10900

10600

10750

8325500

10750

3/8/2013

10800

10900

10700

10800

10146000

10800

3/11/2013

10750

10900

10700

10750

7497000

10750

3/12/2013

10800

10800

10800

10800

0

10800

3/13/2013

10700

10800

10600

10700

16345000

10700

3/14/2013

10650

10750

10600

10650

15273500

10650

3/15/2013

10750

10800

10650

10750

13994500

10750

3/18/2013

10650

10700

10600

10650

15794000

10650

3/19/2013

10700

10850

10700

10700

12982500

10700

3/20/2013

10900

10900

10650

10900

14392000

10900

3/21/2013

10750

10900

10700

10750

10977000

10750

3/22/2013

10600

10850

10600

10600

15992000

10600

3/25/2013

10900

10900

10500

10900

5294500

10900

3/26/2013

10650

10900

10650

10650

9483500

10650

3/27/2013

11000

11150

10700

11000

18027500

11000

3/28/2013

11400

11400

10850

11400

7290000

11400

3/29/2013

11400

11400

11400

11400

0

11400

4/1/2013

11000

11200

10950

11000

2778500

11000

4/2/2013

11050

11200

11050

11050

3929000

11050

4/3/2013

11050

11200

11050

11050

3929000

11050

4/4/2013

10850

11200

10850

10850

9447000

10850

4/5/2013

11050

11050

10850

11050

6517000

11050

4/8/2013

10700

11050

10650

10700

19784000

10700

4/9/2013

10600

10850

10550

10600

13664000

10600

4/10/2013

10550

10750

10450

10550

15230000

10550

4/11/2013

10800

10800

10600

10800

17824500

10800

4/12/2013

10900

10950

10750

10900

11447000

10900

4/15/2013

10600

10800

10600

10600

13638500

10600

4/16/2013

10800

10850

10600

10800

11937000

10800

4/17/2013

11000

11000

10800

11000

16949000

11000

4/18/2013

11000

11000

10900

11000

9659000

11000

4/19/2013

11000

11050

10900

11000

6174000

11000

4/22/2013

10900

11050

10750

10900

8643500

10900

4/23/2013

10900

10900

10900

10900

0

10900

4/24/2013

11050

11050

10750

11050

13597000

11050

4/25/2013

11100

11100

10900

11100

8655000

11100

4/26/2013

10750

11100

10750

10750

8045500

10750

4/30/2013

10750

10950

10700

10750

43873500

10750